Jumat, 10 Januari 2014

pemikiran bung karno

Mantan Presiden Soeharto tak pernah berbohong ", kata Habibie guna mengagungkan guru besar politiknya itu. Ucapan bohong dari Habibie itu disiarkan televisi CNN, Senin ( 21/6) lalu.
Bahwa berbohong sudah menjadi tradisi Soeharto, baik tatkala ia hendak membohongi Mayjen Sudarsono, menjelang kudeta 3 Juli 1946 yang gagal, maupun mengenai pertemuannya dengan Kolonel Latief, di RSPAD 30 September 1965 malam, juga mengenai masyarakat Pancasila yang sosialistis religius. Dan kini fasis Habibie berbohong lagi , mengenai dirinya , katanya murid Bung Karno, ketika bertemu dengan Rachmawati putri Soekarno di Istana Merdeka , Jakarta, semalam. Seperti diketahui kedatangan Rachamwati ke Istana Merdeka , dalam rangka berdirinya Universitas Bung Karno.

HEBATNYA AJARAN DAN PEMIKIRAN BUNG KARNO
Pernyataan Presiden Habibie bahwa dirinya murid dan sangat mengidolakan Bung Karno diragukan Dahlan Ranuwiharjo. Menurut kader Presiden RI Pertama itu , kalau murid dan pengagum Bung Karno harus memahami ajaran dan pemikirannya. "Saya baru dengar Habibie mgomong seperti itu . Tapi nggak apa lah seorang mengaku murid Bung Karno, itu hak setiap orang namun rakyat bisa menilai, benar tidaknya dari gerak yang dibuatnya," ujar Dahlan.
"Sekarang ini," menurut pendiri HMI itu, "memang ada suatu Euphoria terhadap kebangkitan ajaran dan pemikiran Bung Karno . Ini disebabkan de-Sukarnoisasi yang diterapkan selama rezim Orba sudah mencair." Sehingga begitu katup itu dibuka , kader dan murid Bung Karno menghidupkan kembali ajajran dan pemikiran Bung Karno. "Melihat hal ini," lanjutnya, "para politisi ingin memanfaatkan situasi itu untuk kepentingan politiknya . Sehingga pengaruh Bung Karno sekarang itu sudah menjadi rebutan untuk menarik simpati rakyat."
"Padahal Bung karno itu bukan komoditas yang diperdagangkan. Tapi sekarang ini sudah menjadi rebutan . Inilah hebatnya ajaran dan pemikiran Bung Karno," ujarnya. Menurut pengajar Fakultas Hukum Universitas Tujuh Belas Agustus itu, seorang yang mengaku murid dan pengagum Bung Karno , tetapi tidak memahami ajaran dan pemikiran Bung Karno, maka tidak akan efektif dalam menarik simpati rakyat.
Menyingung apakah Habibie memiliki kriteria sebagi murid dan pengagum Bung Karno itu, Dahlan mengatakan belum melihat ada indikasi seperti itu. Apa yang dilakukan Habibie belum sesuai dengan ajaran dan pemikiran Bung Karno. Diamemberi contoh, ajaran Bung Karno tentang Pasal 33 UUD 1945 , yang disebutkan antara lain disitu bahwa cabang cabang produksi yang menguasai hajad hidup orang banyak harus dilindungi oleh negara dan diberikan sebesar-besarnya untu kemakmuran rakyat. Tapi nyatanya, pemerintahan Habibie, melalui Meneg BUMN Tanri Abeng sekarang ini mau menjual pabrik Semen dan Baja kepada swasta.
Jelasnya, menurut Dahlan Ranuwiharjo Habibie berbohong kalau mengatakan demikian, dalam perbuatan lain yang dilakukannya . Ciri orang munafik tak sesuai kata dengan perbuatan.

HABIBIE TAK KENAL AJARAN DAN PIKIRAN BUNG KARNO
Bahwa Habibie tak mengenal ajaran dan pemikiran Bung Karno , jelas sekali dari ucapannya di depan pimpinan pusat pemuda Muhamadyah bahwa Komas (Komunis, Marhaenis ,dan Sosialis ) dinyatakan sebagai gerakan yang menghalalkan segala cara untuk memecah belah bangsa . Setelah dengan gencar serangan terhadap dirinya , maka Habibie meminta semua pihak tidak menyalah artikan sebagai golongan yang ia sebut tadi (Marhaenisme, Sosialisme) adalah identik dengan komunis, itu tidak demikian. Habibie bukan bernama Habibie , bila ia tidak mencoba menyangkal menyerang Marhaenisme dan Sosialisme.
Dikatakannya kemudian, yang diserang adalah komunisme, Marxisme dan Leninisme. Pengakuannya yang diserang hanya komunisme, marxisme, leninisme justru pengakuan bahwa ia tidak mengerti ajaran dan pemikiran Bung Karno. Jika Habibie mengerti ajaran Bung Karno tentu dia tidak akan menyerang komunisme, Marxisme, leninisme karena Marhenisme Bung Karno adalah penerapan Marxisme yag disesuaikan kondisi Indonesia. Malah pada 1926 saja Bung Karno sudah mengemukakan perlunya Persatuan kaum Nasionalis, Islam dan Marxisme, maka sesudah Pemilu 1955 persatuan Nasionalis , Islam dan Marxisme itu beliau bakukan menjadi Nasakom (Nasionalisme, Agama dan Komunisme ).
Pengakuan Habibie bahwa yang diserangnya hanya komunisme, Marxisme-Leninisme, hanya menunjukkan bahwa guru politik yang sesungguhnya dari Habibie ialah Soeharto fasis dan bukan Bung Karno, seorang demokrat yang sunguh-sungguh.
Kefasisan Habibie juga ditunjukkan dengan tidak mengizinkan berdirinya kembali PKI. Padahal di bawah kepemimpinan Bung Karno, hak hidup PKI senantiasa terjamin. Terang kiranya bahwa pengakuan Habibie dia murid adan pengagum Bung Karno adalah ucapan seorang munafik. Karena dalam tindakkannya justru ia menentang dipraktekkannya ajaran-ajaran dan pemikiran Soekarno, terutama tantang perlu digalangnya persatuan yang berbasiskan Nasakom. Habibie mengatakan bahwa dia murid dan pengagum Soekarno, yang tercermin antara lain dari unggulnya PDI-Perjuangan yang dipimpin Megawati Soekarnoputri dalam Pemilu 7 Juni 1999 lalu. Ia ingin mendapatkan dukungan supaya bisa menjadi Presiden ke IV RI. Sebuah akal bulus murahan.***



BUNG KARNO SEBAGAI PEMIKIR ISLAM  

Oleh : M. Dawam Rahardjo 


Bung Karno adalah seorang Muslim dan di Timur Tengah diakui sebagai seorang pemimpim Muslim. Tapi di Indonesia, ia lebih dianggap sebagai seorang pemimpin nasionalis, dari pada seorang pemimpimpin Muslim. Hal ini berbeda dengan anggapan terhadap Dr. Sukiman Wirjosandjojo umpamanya. Karena namanya tercantum dalam entry Ensiklopedia Islam. Barangkali karena Dr. Sukiman adalah seorang tokoh partai Islam, Ketua Umum Partai Masyumi yang pertama, sedangkan Bung Karno sendiri dianggap sebagai pendiri Partai Nasional Indonesia (PNI) yang berhaluan nasionalis. Karena itu tidak salah untuk menyebut Bung Karno sebagai seorang nasionalis, katimbang seorang pemimpin Muslim, seperti Mohammad Natsir. Itulah maka Mohammad Hatta, juga lebih dianggap sebagai seorang nasionalis, walaupun Hatta banyak menulis mengenai Islam. “ Di mata para pengritiknya dari kalangan politisi Islam, “ kata Bambang Noorsena (2001), “Bung Karno bukan sosok seorang Islam santri”. Itulah saebabnya ia tidak diakui sebagai seorang pemimpin Islam.

Bung Karno tak kalah banyaknya menulis tentang Islam, bahkan ia lebih banyak menulis dan berpidato mengenai Islam, yang mengeluarkan pemikiran-pemikiran keislaman, katimbang Dr. Sukiman yang justru lebih banyak berbicara mengenai nasionalisme Indonesia. Karena itu dari sudut sejarah perlu dipertambangkan kembali kedudukan Bung Karno sebagai, paling tidak, seorang pemikir Muslim, yang turut menyumbang, secara cukup berarti, dalam wacana keislaman. Bahkan Bung Karno boleh di bidang telah berjasa sangat besar dalam da’wah Islam.

Tidak banyak yang tahu, bahwa Bung Karno, adalah orang kunci dalam berdirinya Masjid Salman di kampus ITB. Pada suatu waktu, panitia pendirian masjid Salman pada tahun 1960-an, telah gagal menempatkan pembangunan masjid tersebut di dalam kampus. Tapi tiba-tiba Bung Karno menanyakan status rencana pembangunan tersebut dan menanyakan pula gambarnya dan memanggil panitia pembangunan. Setelah berdiskusi dan memberi komentar, maka ia menulis dalam rancana itu “aku namakan masjid ini Masjid Salman”, dengan inisial “Soek”. Itu berarti Bung Karno sekalu Presiden RI, telah menyetui pendirian sebuah masjid di kampus. Padahal, pihak rektorat telah menolaknya yang meminta agar masjid tersebut dibangun di luar kampus. Dengan demikian, maka “Salman” adalah masjid kampus di universitas negeri yang pertama di Indonesia, yang baru kemudian diikuti dengan berdirinya masjid Arief Rahman Hakim, di kampus UI, Salemba, masjid Salahuddin, di kampus UGM atau masjid Raden Patah, di kampus Universitas Brawijaya. Selanjutnya pendirian masjid kampus itu diikuti oleh hampir semua universitas yang memiliki kampus. Masjid model Salman ini mengikuti visi masjid modern yang tidak saja merupakan pusat ibadah (tempat sholat saja), tetepi juga pusat kebudayaan dan kegiatan da’wah di kalangan terpelajar, khususnya mahasiswa.

Pemberian nama “Salman” tidak pula sembarangan. Ini mencerminkan pengetahuan Bung Karno mengenai Islam. Dalam sejarah Islam, sahabat Salman dari Parsi, dianggap sebagai seorang “arsitek”, yang mengusulkan dan mempimpin pembangunan benteng berupa parit dalam Perang Chandaq (Perang Parit). Interpretrasi historis terhadap tokoh Salman ini diterima oleh kalangan cendekiawan maupun ulama dan menjadi interpretrasi populer yang diucapkan dalam ceramah-ceramah dan khutbah-khutbah jum’at dalam wacana da’wah. Sejak munculnya nama Salman sebagai arsitek sahabat Nabi, maka profesi “arsitek Muslim” diakui dan menjadi populer. Pola arsitektur masjid modern, juga berkembang, walaupun juga berkat kreativitas Ir. Noekman, yang sangat dikenal sebagai arsitek Muslim dari Masjid Salman ITB. Dalam kaitan ini, tidak bisa dilupakan, bahkan Bung Karno sendiri adalah seorang arsitek.

Tapi jasa Bung Karno sebagai pemikir-budaya tidak sampai di situ. Ia menerima pula ide Haji Agus Salim, yang dijulukinya The Grand Old Man, -- julukan itu juga diterima dan menjadi populer dalam wacana gerakan Islam di Indonesia --, walaupun Haji Agus Salim pernah memberikan kritik tajam terhadap gagasan nasionalisme Bung Karno, untuk membangun Masjid Baitul Rahim, sebuah masjid di halaman istana negara dengan arsitektur yang indah, yang seringkali dibandingkan dengan gereja. Visi Bung Karno tentang masjid mencapai puncaknya dengan pendirian masjid Istiqlal, yang merupakan pengakuan terhadap jasa umat Islam dalam perjuangan kemerdekaan, karena Istiqlal artinya adalah kemerdekaan, yang arsteknya adalah seorang Nasrani, Ir. Silaban. Itu semua mencerminkan pandangan keagamaan Bung Karno yang luas dan terbuka. Sulit menemukan pandangan seorang pemikir Muslim yang se “liberal” Bung Karno.

Namun demikian, Bung Karno tetap saja tidak diakui sebagai seorang pemimpin Islam atau pemimpin umat Islam dan juga tidak diakui sebagai seorang pemikir Islam. Atau dalam rumusan yang lebih kena, seperti kata Bambang Noorsena, “para pengritiknya dari kalangan politisi Islam, meragukan kemurnian keislaman Bung Karno”. Syed Husein Alatas, seorang sosiolog Malaysia, yang lama mengajar di Universitas Singapore, pernah menulis buku tentang “Islam dan Kita”, dan dalam buku itu ia menampilkan empat tokoh nasional Indonesia dan kaitannya dengan Islam. Di situ ia menyebut Bung Karno sebagai seorang pemimpin Muslim namun tidak memiliki komitmen perjuangan Islam dan bahkan secara politis menantang Islam. Tokoh yang disebutnya pemimpin Islam yang ideal adalah Syafruddin Prawiranegara, seorang terpelajar yang mempunyai pemikiran tentang Islam dan memiliki komitmen pula terhadap gerakan dan politik Islam. Ada dua orang tokoh lagi yang ia bahas, yaitu Sutan Syahrir dan Tan Malaka. Syahrir adalah seorang yang lahir dari keluarga Muslim di Minangkabau, tempat kelahiran banyak pemimpin Islam, antara lain Haji Agus Salim dan Mohammad Natsir, tetapi ia ketika telah menjadi pemimpin telah tercerabut (uprooted) dari lingkungan masyarakatnya dan menjadi tak acuh (indefferent) terhadap Islam. Sedang Tan Malaka adalah seorang yang masih mengaku Muslim, mempunyai pengetahuan dan pemikiran menganai Islam, tetapi pada dasarnya ia adalah seorang komunis yang ingin memperalat Islam dan kaum Muslim untuk mencapai tujuan perjuangan komunisme di Indonesia.

Bung Karno, sebagai seorang Muslim adalah kebalikan dari Syahrir. Ia memang berasal dari keluarga abangan dan baru pada umur 18 tahun berkenalan dengan Islam. Namun kemudian ia berkembang menjadi seorang Muslim, walaupun belum bisa atau mungkin juga tidak mau disebut santri. Walupun begitu, orang seperti A. Hassan atau Mohammad Natsir, tidak meragukann keyakinannya terhadap Islam. Barangkali ia tepat disebut sebagai seorang muslim marginal.

Ada beberapa faktor yang membentuk persepsi orang terhadap Bung Karno. Pertama ia dianggap memiliki latar belakang dan masih dipengaruhi agama Hindu dan Buddha, atau mungkin masih dipengaruhi oleh apa yang disebut oleh antropolog Clifford Geertz, “agama Jawa”. Ajaran pewayangan masdih nampak mempengaruhinya, walaupun ia adalah seorang yang mendapatkan pendidikan modern Barat. Kedua, ia sering menyatakan dirinya sebagai penganut Marxisme atau paling tidak mempergunakan (sebagian) teori Marxis dalam analisis-analisisnya Dalam suatu rekaman wawancara yang diberi judul “Tabir adalah lambang Perbudan” (Panji Islam, 1939), ia pernah berkata dengan bangga: “Saya adalah murid dari Historische School van Marx”. Pernyataan ini sangat berani, karena pengakuannya itu dikeluarkan justru ketika ia sedang berebicara mengenai Islam , khususnya pandangan Islam mengenai perempuan. Tulisan-tulisannya memang menunjukkan bahwa ia sering mempergunakan metode Marx (walaupun ada yang menilai ia kurang atau salah memahami metode ilmiah Marx). Ia bahkan mengemukakan gagasannya mengenai Marheinisme yang dikatakannya sebagai “Marxisme yang disesuaikan dengan kondisi Indonesia”, walaupun menurut ahli sejarah Lereissa, pahamnya itu sesungguhnya dipengaruhi oleh pandangan seorang Marxis Rusia, Bakunin. Ketiga, pandangan-pandangan Bung Karno sering berlawanan atau mendapat kritik tajam d ari pemikir-pemikir Islam terkemuka, seperti Haji Agus Salim, A. Hassan dan Mohammad Natsir. Faktor-faktor itu semua ikut mereduksi citra Bung Karno sebagai pemikir Islam.

Buku “Religi dan Religiousitas Bung Karno” karya Bambang Noorsena yang memiliki latar belakang keyakinan Kristen Siria, ikut menjauhkan Bung Karno dari citranya sebagai seorang Muslim sejati. Paling tidak dikesankan dengan cukup meyakinan, bahwa paham tauhid yang dianut Bung Karno tidak murni, setidak-tidaknya menurut paham Islam ortodoks. Disebutkan bahwa bahwa Bung Karno tidak bertolak dari keluarga Muslim, bahkan pada masa pra-remajanya dibesarkan dalam suasana Hinddu-Buddha atau “agama Jawa” menurut pengartian Geertz. Dikatakan pula bahwa Bung Karno pernah menyebut dirinya seorang “panteis-monoteis” atau paham wahdatul-wujud”. Konon, menurut Bambang Noorsena, Bung Karno pernah mengaku kepada Louis Fischer, penulis biografi Mahatma Gandhi, bahwa ia adalah sekaligus seorang Islam, Kristen dan Hindu. Dergan perkataan lain, ia adalah seorang sinkretis. Itu semua manjauhkan citra Bung Karno sebagai seorang santri atau seorang Muslim dalam ukuran ortodoks. Tentang hal ini Noorsena mengatakan bahwa “spiritualitasnya yang ‘melintas batas’ (passing over) agama-agama itu justru meneguhkan anggapan sementara orang bahwa Sukarno menempuh jalan sufi”. Itu semua telah mereduksi citra Bung Karno sebagai seorang Muslim.

Padahal, Bung Karno, di lain pihak, pernah mendapatkan gelar doktor honoris causa di bidang tauhid, oleh sebuah lembaga pendidikan agama yang prestisius, IAIN Syarif Hidayatullah, bahkan juga mendapat gelar honoris causa di bidang filsafat oleh Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Gelar itu tidak mungkin diberikan oleh sebuah universitas Islam seperti Al Azhar, jika lembaga itu meragukan iman Bung Karno dalam ketauhidan.

Pada waktu muda, Bung Karno pernah menjadi anggota Sarekat islam dan Partai Sarekat Islam. Memang ia kemudian keluar dari partai itu dan mendirikan sendiri PNI bersama-sama dengan kawan-kawan nasionalis yang sepaham yang menganut aliran “nasionalis sekuler”. Tapi ia tetap mempertahankan citranya sebagai seorang Muslim, antara lain dengan bergabung dengan Muhammadiyah, sebuah organisasi yang berfaham “tauhid keras” (hard tauhid). Ia bahkan aktif sebagai anggota pengurus lokal, ketika berada dalam pembuangannya di Berkulu. Sebagai anggota dan aktivis Muhyammadiyah, Bung Karno pernah mengeluarkan semboyan yang kemudian menjadi sangat populer dan menjadi semboyan semua anggota Muhammadiyah, yaitu “Sekali Muhammadiyah tetap Muhammadiyah”. Konon ia pernah berwasiat, jika meninggal dunia, ia diusung dalam keranda yang ditutup dengan bendera Muhammadiyah. Soekarno muda memang banyak berkenalan dan dipengaruhi oleh Islam aliran “Persatuan Islam” yang diasuh oleh A. Hassan, dimana seorang pemimpin Islam terkemuka, Mohammad Natsir dididik. Ia pernah pula mengaku tertarik dan belajar banyak dari pemikiran Ahmadiyah. Tapi pilihan terakhirnya adalah Muhammadiyah yang beraliran “sebersih-bersih tauhid”.

Menurut riwayat, Bung Karno mulai belajar Islam secara serius, ketika ia meringkuk di penjara sukamiskin, Bandung, dari mana ia membaca terbitan-terbitan Persatuan Islam, yang kini mungkin disebut sebagai aliran “fundamentalisme” Islam, sebagaimana Al Islam, Solo, dimana M. Amien Rais pernah lama belajar. Kegiatan belajarnya makin intensif ketika ia berdiam di Endeh, Flores. Di situ dan pada waktu itulah ia berkorespondensi dengan A. Hassan, pemimpin lembaga pendidikan Persatuan Islam yang mula-mula berpusat di Bandung tapi kemudian berpindah ke Bangil, Jawa Timur hingga sekarang ini yang dikenal sebagai penerbit majalah Al Muslimun.

Tapi, sebelum masa “Surat-surat dari Endeh” itu, Soekarno muda sudah memiliki persepsi tenhtang Islam, yang agaknya ia peroleh dari guru dan sekaligus mertuanya, H.O.S. Tjokroaminoto. Persepsinya mengenai Islam adalah, bahwa Islam adalah sebuah agama yang “sederhana”, rasional dan mengandung gagasan kemajuan (idea of progress) dan egaliter. Islam sebagai agama (dengan semangat) kemajuan, pertama-tama dikemukakan oleh Tirtoadisoerjo, pendiri Sareket Priyayi (1906) dan Sarekat Dagang Islam (SDI), Bogor-Jakarta (1909). Dalam perjalanannya mencari Islam itu, Bung Karno permah dituduh ikut dan menjadi propagandis aliran Ahmadiyah. Ia menolak keras tuduhan itu, tetepi ia mengaku banyak tertarik oleh literatur Ahmadiyah, terutama karya-karya Mohammad Ali dan Chawadja Kamaloedin, yang membawakan tafsiran-tafsiran rasional atas Islam. Sokarno memang tidak bisa membaca bahasa Arab, karena itu Islam dipelajarinya dari tulisan-tulisan berbahasa Belanda, Inggris dan Jerman yang dikuasainya. Pertemuannya dengan aliran Ahmadiyah itu agaknya diterimanya dari Tjokroaminoto yang juga mempelajari Islam dari bahasa belanda dan Inggris, termasuk terbitan-terbitan Ahmadiyah.

Dari situlah Soekarno muda memiliki persepsi tentang Islam sebagai agama rasional, sebagaimana dibawakan oleh aliran Ahmadiyah. Ia juga tertarik kepada aliran Mu’tazilah yang menamakan dirinya aliran ”tauhid dan keadilan” (ahl al tauhid wa al adalah). Ia juga mengenal filsuf-filsus Muslim pada Abad Pertengahan, seperti Ibn Sina dan Ibn Rusyd. Karena itu maka ketika ia memperdalam tentang Islam, ia merasa memiliki pandadangan dan tafsiran tersendiri tentang Islam.

Di balik perhatiannya terhadap islam sebagai ajaran, Soekarno muda sebenarnya menaruh perhatian terhadap masyarakat Islam atau kondisi umat Islam, dalam konteks kolonialisme dan imperialisme. Di samping ingin memperdalam ajaran-ajaran Islam, baik dari segi ibadah maupun siyasah (politik) dan mu’amalah (sosial-ekonomi), Soekarno menaruh perhatian terhadap aspek masyarakat dan paham-paham keagamaannya. Dalam melihat segi-segi kemasyarakatan, Soekarno yang terlibat dan memimpin pergerakan nasional dan mempelajari ilmu-ilmu sosial dan sejarah, termasuk membaca karya-karya Karl Marx, merasa kecewa dan tidak menyetujui paham-paham Islam tradisional. Soekarno muda, walaupun masih dan ingin belajar tentang Islam, namun sudah berani menyatakan pendapat-pendapatnya yang kritis.

Soekarno muda yang sangat energetik itu, menyerang doktrin taklid dan sikap menutup pintu ijtihad. Ia menantang kekolotan, ketakhayulan, bid’ah dan anti-rasionalisme yang dianut oleh masyarakat Muslim Indonesia. Ia berpendapat, bahwa Islam telah disalah-tafsirkan, karena umat Islam dan para ulamanya lebih percaya dan berpedoman kepada hadist-hadist dan pendapat ulama, dari pada berpedoman kepada al Qur’an. Ia pernah meminta kiriman buku kunpulan hadist Bukhari, karena ia mencurigai beredarnya hadist-hadist palsu yang bertentangan dengan al Qur’an. Di sini Soekarno muda sudah memasuki pemikiran kritik hadist, yang hanya baru-baru ini saja menjadi perhatian studi akademis. Pandangan Soekarno itu memang tidak baru, karena tema-tama itulah yang telah dibawa oleh gerakan Muhammadiyah yang beraliran moderbis. Karena itu, maka Soekarno muda sebenarnya adalah penganut paham Islam modernis.

Namun seringkali ia mempunyai paham yang lebih maju, yang mendahului zamannya atau lebih maju dari pandangan pemikir-pemikir Muslim terkemuka pada waktu itu. Misalnya saja, ia menfanjurkan dipakainya metode materialisme-historis yang diajarkan oleh Marx dalam mempelajari npaham-paham keagamaan ketika itu. Ia melihat bahwa paham-paham Islam yang dianggapnya keliru itu dipengaruhi oleh kondisi masyarakat, khususnya stelsel ekonomi. Ia mengikuti paham bahwa “bukan kesadaran yang menentukan keadaan, tetepi sebaliknya, keadaanlah yang menentukan kesadaran”, walaupun ia tidak secara persis mengatakan begitu.

Dalam mempelajari Islam, dimana ia meminta bahan-bahan dari Persatuan Islam Bandung, ia ingin mencocokkan dengan pandangannya sendiri. Ia ingin membaca buku “The Spirit of Islam” yang terkenal karya Syed Ameer Ali umpamanya, untuk dibandingkan dengan pandangannya sendiri. Karena ia telah memiliki persepsi dan asumsi mengenai ajaran Islam, maka ia ingin menampilkan pandangannya sendiri tentang Islam. Ia berfikir, hendaknya dilakukan kritik terhadap paham-paham Islam yang tradisional, untuk kemudian dikembalikan kepada sumber ajaran Islam yang paling autentik, yaitu al Qur’an. “Anehnya”, Soekarno yang bersemangat itu, menganjurkan dipakainya ilmu pengetahuan modern (modern science), seperti ilmu-ilmu sosial, biologi , astronomi atau elektronika untuk memahami al Qur’an. Dalam perkataannya sendiri: “Bukan sahaja kembali kepada al Qur’an dan Hadist, tetepi kembali kepada al Qur’an dan Hadist dengan mengendarai kendaraannya pengetahuan umum”. Ia bersikap kritis terhadap kitab-kitab tafsir, seperti karangan Al-Baghawi, Al-Baidhawi dan Al Mazhari, karena tafsir-tafsir itu belum memakai ilmu pengatahuan modern. Pandangan jauhnya terlihat dalam ucapannya sebagai berikut:

Bagaimana orang bisa betul-betul mengerti firman Tuhan bahwa segala sesuatu itu dibikin oleh Nya 'berjodoh-jodohan', kalau tak mengetahui biologi, tak mengetahui elektron, tak mengetahui positif dan negatif, tak mengetahui aksi dan reaksi?. Bagaimana orang bisa mengatahui firmanNya, bahwa “kamu melihat dan menyangka gunung-gunung itu barang keras, padahal semuanya itu berjalan selaku awan”, dan sesungguhnya langit-langit itu asal-muasalnya serupa zat yang berlaku, lalu kami pecah-pecah dan dan kami jadikan segala barang yang hidup daripada air, kalau tidak mengerti sedikit astronomy ? Dan bagaimanakah mengerti ayat-ayat yang meriwayatkan Iskandar Zulkarnain, kalau tidak mengerti sedikit history dan archeology?

Pendekatan inilah yang kelak diikuti oleh scientist Muslim seperti Sahirul Alim, Ahmad Baiquni atau M. Immaduddin Abdurrahim.

Ia menganjurkan agar umat Islam itu tidak menengok ke belakang, termasuk hanya mengagumi dan mengaung-agungkan zaman kejayaan Islam (Islamic Glory), melainkan melihat jauh kemuka. Kuncinya adalah membuang jauh sikap anti-Barat secara priori. Ia juga mengecam sikap tradisional yang disebutnya sebagai “semangat kurma” dan “semangat sorban”. Saran lain yang dikemukakannya adalah tidak terpakun pada yang halal dan haram saja, tetapi juga kepada hal-hal yang mubah dan jaiz, dimana umat Islam mempunyai kemerdekaan berfikir, sesuai dengan hadist nabi “engkau lebih tahu mengenai masalah duniamu” (antum a’lamu bi umuri duniakum). Tidak saja di lapangan pemikiran, Soekarno banyak menganjurkan perhatian, tetapi juga di bidang da’wah. Ia mengagumi kegiatan misi Katholik di Flores dan menganjurkan agar hal yang sama bisa dilakukan oleh da’wah Islam.

Kritik Soekarno muda memang blak-blakan dan keras, sehingga ia sendiri merasa bisa disalah-pahami sebagai “anti-Islam”. Walaupun menyadari risiko itu, ia tidak berhenti mengkritik paham-paham Islam yang kolot. Tapi lebih tepatnya, di bidang da’wah ia lebih bersimpati kepada muballig-muballig yang modern-scientific dan mengacam muballig-mubalkig “ a la kyai bersorban” dan “a la hadramaut”. Ia sangat menghargai umpamanya, muballig seperti Mohammat Natsir yang menulis Islam dalam bahasa Belanda untuk kaum terpelajar.

Ia agaknya menginginkan, agar umat Islam mengembangkan segi keduniaanya yang nabi Muhammad saw telah memberikan kebebasan berfikir. Dalam rumusannya sendiri ia berkata:

Kita tidak ingat bahwa Nabi saw sendiri telah menjaizkan urusan dunia menyerahkan kepada kita sendiri perihal urusan dunia, membenarkan segala urusan dunia yang baik dan tidak haram atau tidak makruh. Kita royal sekali dengan perkataan “kafir” , kita gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap “kafir”. Pengetahuan Barat - kafir, radio dan kedokteran - kafir pantalon dan dasi dan topi - kafir, sendok dan garpu dan kursi-kafir, tulisan Latin - kafir, ya pergaulan dengan bangsa yang bukan Islampun - kafir ! Padahal apa-apa yang kita namakan Islam? Bukan Roch Islam yang berkobar-kobar, bukan api Islam yang menyala-nyala, bukan Amal Islam yang mengagumkan, tetepi .... dupa dan korma dan jubah dan celak mata !

Kritik-kritik terhadap Islam tradisional yang kolot, memang terasa tajam. Tetepi espresi itu sebanarnya justru menunjukkan sikap jujurnya. Ia tidak takut dicap anti-Islam. Namun sikap yang sangat menghendaki kemajuan itu agaknya pernah menimbulkan kejengkelan A. Hassan, sehingga Soekarno mudah dituduhnya telah “kebablasan” , sehingga cenderung menghalalkan apa yang dalam fiqih disebut haram. Soekarno memang banyak mengkritik pemikiran dan cara berfikir fiqih dan cara berfikir taqlid terhadap ulama terdahulu. Ia menginginkan berfikir dan melakukan reinterpretasi langsung kepada al Qur’an dan Hadist yang sahih, sebab ia percaya bahwa Hadist yang sahih tidak bertentangan dengan rasionalisme dan kemoderanan.

Memang kritik-kritik Haji Agus Salim, A. Hassan dan Mohammad Natsir, ada kalanya cukup telak, misalnya dalam mengoreksi paham cinta tanah air yang bisa menjerumuskan kita ke dalam memberhalakan tanah air , bangsa dan ras. Kritik semacam itu kelak muncul lewat tulisan-tuylisan Eric Fromm tentang agama dan psikoalanisis yang mengingatkan bahwa manusia itu bisa menyembah ras, bangsa, kekayaan dan seks. Tapi kritik-kritik seperti itu bisa diterimanya dengan , sehingga ia melakukan koreksi dan defensi terhadap paham nasionalismenya. Ia bisa cukup mengerti untuk tidak terjerumus ke dalam syirik yang merusak kepercayaan tauhid yang murni.

Soekarno juga tidak merasa dendam terhadap para pengeritiknya, bahkan ia sangat menghargai pemikiran semacam darti Haji Agus Salim dan Natsir. Ketika Bung Karno telah menjadi Presiden RI, ia bahkan mengangkat Natsir sebagai sekretarisnya yang sangat ia percaya. Banyak yang menyayangkan bahwa hubungan Natsir-Soekarno itu retak. Kalangan Islam sendiri banyak menyayangkan sikap Natsir umpamanya, mengapa ia tidak memelihara hubungan dengan Soekarno, malahan lebih dekat dan dalam politik bahkan mengikut kepada Syahrir. Padahal Syahrir adalah juga seorang Marxis atau sosialis. Tapi berbeda dengan Soekarno yang memiliki empati yang sangat besar terhadap Islam, Syahrir adalah orang yang sama sekali tidak peduli terhadap Islam. Banyak yang menjelaskan bahwa Natsir telah terjebak dalam ikatan etnis dengan Syahrir dan Hatta yang sama-sama orang Minang, sedangkan Soekarno adalah orang Jawa. Padahal Syahrir menyatakan rasa tidak suka dan bahkan kebenciannya terhadap Soekarno. Itulah sebabnya, pada akhirnya, Bung Karno merasa lebih dekat dengan orang-orang PKI yang mendukungnya, paling tidak tidak memusuhinya. Bahkan secara politis, Bung Karno merasa lebih dekat dengan NU daripada dengan Masyumi.

Kritik-kritiknya terhadap paham Islam tradisional, betapapun tajam dan kerasnya. Kritiknya yang jelas terpampang dalam tulisannya yang berjudul “Tabir adalah lambang Perbudakan: Tabir tidak diperintahkan oleh Islam”. Tapi di sini, nampak “prasangka baik” Bung Karno terhadap Islam. Ia tidak menantang ajaran Islam itu sendiri, melainkan mengatakan bahwa tabir itu tidak diperintahkan Islam. Ia tidak percaya bahwa mensekat kelompok laki-laki dan perempuan itu adalah perintah Islam. Pandangan Bung Karno itu ternyata dibenarkan oleh Haji Agus Salim. Tapi sikap Bung Karno sendiri tegas dan uncompromising. Ia bahkan pernah protes dengan meninggalkan suatu pertemuan Muhammadiyah, karena pertemuan itu membuat tabir, padahal ia melihat tabir adalah lambang perbudakan perempuan.

Pandangan Soekarno tentang perempuan, ternyata adalah contoh dari pandangan yang mendahului zamannya. Pandangannya yang lengkap tentang perempuan menggerakkannya untuk menulis sebuah buku yang berjudul “Sarinah”, sebuah buku yang sanggup menimbulkan rasa haru. Orang bisa menangis membaca buku itu. Jauh sebelum timbulnya wacana modern mengenai gender, Soekarno telah memiliki faham tentang feminisme. Pandangannya itu bisa dikatakan mengikuti aliran Marxis. Di situ ia berpendapat bahwa diskriminasi terhadap perempuan itu berakar dari stelsel sosial-ekonomi. Penindasan terhadap perempuan adalah bagioan dari kapitalisme dan imperialisme. Karena itu untuk membebaskan kaum perempuan, yang harus dilakukan adalah memberantas stelsel produksi.

Dalam buku “Sarinah” itu Bung Karno juga mengemukakan sebuah pandangannya tentang agama. Disitu ia menguraikan evolusi pandangan keagamaan, mengikuti tahap-tahap perkembangan masyarakat. Pandangannya sejalan dengan teori evolusi August Comte. Sesuai dengan perkembangan masyarakat yang berdasarkan stelsel produksi (dalam istilah Marxis modern mode of production dan social formation), maka agama yang dipeluk masyarakat juga mengalami perubahan, dari mula-mula menyembah roh yang terdapat pada benda-benda dan roh nenek moyang (animisme dan dinamisme), kepada menyambah berhala, dan kemudian pada masyarakat agraris orang mulai mengenal Tuhan yang Maha Esa. Konsekuensi dari teori evolusi ini adalah bahwa kelak, setelah orang menguasai ilmu pengetahuan dan lingkungannya, kepercayaan kepada Tuhan akan dengan sendirinya hilang. Marx sendiri juga berpendapat bahwa agama itu tidak perlu dimusuhi, karena agama hanyalah m,anifestasi dari ketertindasan dan alinasi.. Yang harus dilakukan adalah merubah masyarakat itu sendiri, dengan melenyapkan segala bentuk penindasan. Analisis tersebut sebenarnya rawan dan memungkinkan pencemaran citra Bung Karno sebagai pemikir. Orang bisa menarik kesimpulan, bahwa Bung Karno itu jatidirinya lebih Merxis daripada Muslim.

Tapi hal itu tidak benar, karena ketika mengusulkan philosopische gronslag bagi negara Indonesia merdeka, disamping menawarkan ideologi-ideologi modern, seperti humanisme, nasionalisme, demopkrasi dan sosialisme, ia tidak lupa mengusulkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa, yang dalam pemahaman Muslim adalah ajaran tauhid. Karena itu, betapapun Bung Karno “terseret” dalam metode berfikir Marxis, tetapi ia tetap seorang Muslim.

Dalam perkembangan pemikiran Islam kemudian, ternyata muncul juga paham keislaman yang menyerap Marxisme, seperti paham yang ditawarkan oleh Ali Syari’ati. Teolog Muslim Mesir modern, Hasan Hanafi juga menawarkan faham “Islam Kiri”. Kecenderungan Bung Karno terhadap Marxisme itu sebenarnya menunjukkan bahwa Soekarno adalah orang yang berfikiran maju, terbuka dan ilmiah. Tapi Bung Karno tidak menelan mentah-mentah Marxisme. Ia ingin agar Marxisme, yang kekuatan utamanya adalah mampu “menelanjangi” kapitalisme dan imperialisme itu, disesuaikan dan mampu mengisi nasionalisme Indonesia. Terhadap Islampun juga, ia tidak menolak Islam. Bahkan, pada tahun 1927 pun, Soekarno telah menampilkan tiga ideologi yang paling maju dan progresif, dengan ciri utamanya, anti kapitalisme dan imperialisme, yaitu Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme. Pemikirannya itu boleh disebut sangat berani dan memberikan kualifikasi Soekarno sebagai seorang intelektual yang berani melakukan sintesa terhadap paham-paham terkemuka di dunia. Ia bahkan beranmi mensintesakan Islamisme dengan Marxisme yang dalam pandangan umum bertentangan satu sam lain. Soekarno muda sendiri tertarik kepada Islam karena wacana Sheikh Mohammad Abduh dan syed Jamaluddin Al afghani yang dikenal sebagai pelopor faham Islam modernis yang dikiuti oleh Masyumi dan Muhammadiyah.

Soekarno muda mengakui adanya apa yang disebut Islamisme yang merupakan sebuah ideologi, seperti Marxisme dan Nasionalisme. Islamisme itu kelak dikembangkan oleh Nurcholish Madjid, ketika ia menjadi salah seorang Ketua HMI pada tahun 1965. Tapi konsep Islamisme itu sendiri tidak lagi berkembang, selain beberapa tulisan Mohammad natsir tentang konsep negara dalam Islam atau islam sebagai dasar negara yang masih bersifat sangat umum. Hal ini menunjukkan betapa telah majunya pemikiran Bung Karno mengenai kemungkinan dikembangkannya sebuah ideologi Islamisme. Disini kita tidak melihat bahwa Bung Karno itu anti Islam-politik. Cuma Bung Karno berfikir bahwa Islamisme itu hendaknya mampu menyerap Marxisme dan bercorak nasionalis. Ia bahkan mencoba menunjukkan adanya persamaan antara Islamisme dan Marxisme, sebagaimana dilihat juga oleh Ali Syari’ati. Dalam suatu karangannya, Soekarno menjelaskan:

Kaum Islamis tidak boleh lupa, bahwa kapitalisme, musuh Marxisme itu, ialah musuh Islamisme pula ! Sebab meerwarde sepanjang Marxisme, dalamn hakekatnya tidak lainlah daripada riba sepanjang faham Islam. Meerwarde, ialah teori: memakan hasil pekerjaan lain orang, tidak memberi bahagian keuntungan yang seharusnya menjadi bahagian kaum buruh yang bekarja
mengeluarkan untung itu, -- teori meerwarde itu disusun oleh Karl Marx dan Frederich Engels yang menarangkan asal-asalnya kapitalisme terjadi. Meerwarde inilah yang menjadi nyawa segala peraturan yang bersifat kapitalistis; dengan memerangi meerwarde inilah kaum Marxisme memerangi kapitalisme sampai pada aker-akarnya !

Atas dasar keterangan tentang adanya persamaan antara Islamisme dan Marxisme paling tidak dengan melihat persamaan konsep weerwarde dan riba itu, maka Soekarno menganjurkan agtar jangan hendaknya umat Islam memusuhi Marxisme, bahkan mengambil Marxisme untuk menjelaskan ajaran Islam. Tapi yang terlebih penting, ia menghandaki persatuan antara tiga paham itu dalam mendukung perjuangan Indonesia merdeka. Pada akhirnya, jati diri Soekarno adan seorang nasionalis. Itu semua menunjukkan keberanian berfikir dan kejujuran berfikir seorang Muslim seperti Soekarno.

Pandangannya yang menyeluruh dan terbuka menganai islam digambarkan dalam karangannya dalam Panji Islam (1940) tentang “Me ‘muda’ kan Pengertian Islam”. Dalam karangannya itu ia antara lain mengemukakan preporisi tentang flkesibilitas hukum Islam. Ternyata pandangannya ini dikecam secara tajam dan sinis oleh A. Hassan. Padahal, Soekarno hanyalah mengutip pandangan Sayid Ameer Ali dalam bukunya “The Spirit of Islam”. Cuma Soekarno mempergunakan istilah yang kurang tepat, yaitu mengumpamakan fleksibilitas itu dengan karet, sehingga ditangkap oleh A. Hassan, bahwa Soekarno menganggap hukum Islam itu seperti hukum karet: “hukum yang jempol haruslah seperti karet, “katanya, “dan kekaretan ini adalah teristimewa sekali pada hukum-hukum Islam”. Padahal menuruit citranya, hukum itu haruslah tegas untuk men jamin apa yang disebut “kepastian hukum”.

Faktor yang mereduksi citra Bung Karno sebagai pemikir Islam adalah pandangannya yang cenderung menyetujui langkah Turki yang memisahkan agama dan negara. Dengan perkataan lain Soekarbo adalah seorang nasionalis sekuler sebagaimana Kemal Ataturk. Kesan ini memang ada benarnya, tetapi dengan catatan. Disamping ingin memisahkan agama dari negara, di lain pihak Soekerno juga menghendaki revitalisasi Islam sebagai gerakan masyarakat. Pandangannya ini sejalan dengan keterangan Talcot Parsons yang menyerahkan kemabli agama kepada masyarakat. Sebab agama yang dipersatukan dengan negara akan menciptakan sebuah negara teokrasi yang otoriter, yang menghambat dinamika berfikir dan dinamika perkembangan masyarakat. Karena itu maka Soekarno adalah penganut apa yang kini disebut sebagai “Islam liberal” di satu pihak dan “Islam dinamis” (meminjam wacana mutakhir) di lain pihak.

Tapi perkiraan Bung Karno itu ternyata tidak terbukti benar, karena sekularisme ternyata sangat menghambat perkembangan pemikmiran Islam, seperti telah terjadi di Turki. Sekularisme ternyata juga bisa menghasilkan suatu rezim otoriter dan di Turki didukung dengan pengaruh militer atas kehiodupan politik. Kaum militer umpamanya, mencegah rekonsiliasi Turki dengan dunia Islam dan mempertahankan citra Turki sebagai bagian dari Eropa Barat, sementara kehendak elite politik Turki itupun ditolak oleh negara-negara Eropa Barat. Pemerintah Turki ternyata bertindak otoriter ketika memaksa Perdana Mentari Erbakan turun dari kekuasaannya, padahal Erbakan duduk di pemerintahan dengan memenangkan pemilu.

Dalam tulisannya mengenai “memudakan” pengertian Islam itu Bung Karno sebenarnya ingin memajukan Islam dan masyarakat Islam. Ia ingin agar Islam yang telah dimudakan itu mampu membawa dan menjadi motor perubahan kemasyarakatan. Hanya saja di dalam kehidupan politik, Bung Karno tidak menyetujui penggunaan simbol Islam. Ia ingin Islam masuk ke dalam paham kebangsaan. Ia juga mengecap sistem ketata-negaraan Islam menyetujui sistem demokrasi parlementer yang dianggapnya sebagai demokrasi borjuis itu. Agaknya ia berharap Islam mempunyai konsep sendiri mengenai demokrasi yang mengarah kepada gagasan “demokrasi terpimpin” , yang kira-kira demokrasi yang berdasarkan permusyawaratan darupada berdasarkan kebebasan yang memberi peluang. Bagi tumbuhnya kapitalisme itu.

Sebenarnya Bung Karno tidak sepenuhnya setuju dengan model Turki. Ia bahkan menampakkan simaptinya terhadap model Mesir yang ingin mendamaikan agama dengan negara. Hanya saja, pengertian tentang Islam oleh kaum Muslimin itu perlu diluruskan dengan pengetahuan modern. “Bukan di dalam persatuan agama dan negara, bukan di dalam sistem yang menentukan Islam menjadi pedoman bagi segala gerak-geriknya negara, terletak nya sebab kemunduran dunia Islam”, katanya “tetapi di dalam salahnya pengertian tentang agama. Di dalam kesalahan tafsir inilah letaknya sumber kebencanaan. Di dalam kesalahan tafsir inilah letaknya segala kesalahan pula. Islam tidak menghalagi kemajuan”, demikian tekannya, “Islam hanyalah salah ditafsirkannya, salah diinterpretasikannya. Mesir lantas membuat interpretasi yang membuat pintu buat kemajuan. Turki berbuat radikal, Mesir berbuat kompromintis”.

Di dalam spektrum kepemimpinan Islam di Indonesia, Bung Karno menduduki posidsi yang unik. Ia menyumbangkan pemikiran-pemikiran Islam dengan analisis ilmu-ilmu sosial modern yang tidak dilakukan oleh pemimpin Islam manapun. Jika seandainya tidak ada orang seperti Bung Karno di kalangan umat Islam, seorang Bung Karno perlu “ditemukan”, separti kata-kata Paul Samualton terhadap Milton Friedman, bahwa seorang seperti dia “should be invented”. Karena itu diskusi ini sebenarnya dimaksudkan untuk melakukan rediscovery mengenai Bung Karno sebagai pemikir Islam yang orisinal. Dan bukannya kontroversial. Upaya ini merupakan argumen bahwa Bung Karno bukanlah seorang sikretis, melainkan seorang penganut agama tauhid yang murni, sebagaimana ia mengidentifikasikan dirinya sebagai Muhammadiyah.[Sumber Paramadina.com]

Sweeping Buku Kiri dan Pelanggaran HAM
Oleh Saiful Arif AKSI
sweeping buku-buku yang berbau "kiri" cukup mengejutkan banyak pihak. Sebab, di alam segar demokrasi ini, ternyata masih ada tindakan-tindakan yang di luar akal sehat. Mulanya buku Frans Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopia ke Perselisihan Revisionisme, yang dibakar kelompok yang menamakan dirinya Aliansi Anti Komunis (AAK). Lebih mengejutkan lagi lantaran buku itu, menurut pengakuan sang penulisnya, ditulis justru untuk mengkritik komunisme. Aksi membakar buku mengingatkan kita pada buku-buku karya Ibnu Rusyd (Averroes) yang jumlahnya ratusan. Buku-buku itu dibakar oleh penguasa pada saat itu karena dianggap tidak sejalan dengan keinginan rezim yang zalim di kota Seville, tempat dia tinggal. Aksi sweeping buku yang hari-hari ini terjadi di beberapa kota di negeri ini perlu menjadi catatan tersendiri bagi kemunduran dunia intelektualitas. Sebab, cara-cara anarkis diberlakukan untuk mengungkapkan suatu ketidaksetujuan. Jika keberadaan kelompok itu memang benar-benar "antikomunis", tentu itu sedikit bisa dihargai. Sebab, memang kesalahan PKI cukup sulit dihapus dalam jangka 10-30 tahun. Namun, memperlakukan kritik dengan cara mempermalukan penulisnya (yang dianggap sebagai bagian dari komunis) adalah bumerang. Yang pertama, dia dianggap melecehkan HAM (hak asasi manusia). Yang kedua, isu antikomunis yang dibawa AAK sulit menemui target yang direncanakan karena dia harus menghadapi musuh yang sama sekali bukan komunis, melainkan masyarakat intelektual. Betapa memalukan. Seperti halnya kucing mengejar tikus, ternyata yang hendak diterkam bukanlah tikus, melainkan anjing. Alih-alih karena sang kucing tak bisa membedakan mana tikus dan mana anjing. Asal main terkam saja. Sejenak marilah kita simak cerita berikut. Barangkali kita bisa memetik pelajaran berharga yang diajarkan oleh Bung Hatta, yakni seputar perdebatan tentang marxisme dengan seorang tokoh Partai Komunis Belanda (Holland). Pada majalah Sin Tit Po, Hatta menulis sebuah karangan yang cukup sensasional. Judulnya Enige Grondtrekken van de Economische Wereldbouw (Garis-garis Pokok Bangunan Ekonomi Dunia, Nomor 6, 6 (?), 8, dan 9; 1938). Dalam terbitan selanjutnya, tulisan itu ditanggapi oleh Mevrouw (Nyonya) Vodegel-Soemarmah (nama samaran Tan Ling Djie) pada April dan Mei 1939. Judulnya cukup menantang: Apakah Hatta Seorang Marxis? Kemudian, Hatta membalas tulisan itu pada majalah yang sama. Sayangnya, media itu sudah tutup. Akhirnya, tulisan yang berjudul Ajaran Marx atau Kepintaran sang Murid Membeo? tersebut diterbitkan oleh "Nationale Commentaren" pimpinan Dr Sam Ratulangi. Dalam tulisan itu, Hatta benar-benar "marah" pada cara Nyonya Vodegel-Soemarmah dalam mengulas soal marxis(me). Hatta mengatakan bahwa Nyonya Vodegel-Soemarmah memandang Das Kapital karya Karl Marx sebagai kitab suci dengan ayat-ayat yang mengupas semua soal ekonomi yang ada dalam masyarakat. Padahal tidaklah seperti itu. Marx hanya berusaha melakukan konstruksi metodis (tanpa banyak fakta dan data) atas perjuangan kelas dan tahap-tahap perkembangan masyarakat. Tidak lebih dari itu dan Marx pun mengakuinya dalam Das Kapital tersebut. Hatta menuduh bahwa Nyonya Vodegel-Soemarmah adalah seorang penganut ideologi komunis yang dogmatis. Barangkali, dia tidak tahu, demikian Hatta, bahwa Karl Marx sendiri pernah bilang bahwa"Saya bukan marxis". Demikianlah cerita tersebut. Hatta tetap berpendirian bahwa mempelajari karya Karl Marx tidak harus menjadi marxis dulu, seperti imbauan Nyonya Vodegel-Soemarmah. Demikian pula manakala ada orang yang mempercayai kebenaran teori Marx, baik materialisme historis maupun dialektika. Biarkan dia memakai teori itu tanpa harus menjadi seorang marxis. Sebab, seorang marxis akan berpeluang menciptakan dogma-dogma. Apa pelajaran yang bisa kita petik dari cerita di atas? Pertama, perdebatan antara Hatta dan Nyonya Vodegel-Soemarmah tetaplah berlangsung dalam koridor ilmiah, meskipun makian di sana-sini tetap menjadi pekerjaan yang tak terlupakan. Hatta menulis, Nyonya Vodegel-Soemarmah pun marah dan menganggapnya sok tahu tentang marxisme padahal dia bukanlah seorang marxis. Demikian pula Nyonya Vodegel-Soemarmah menulis, Hatta pun marah dan menganggapnyatelah memperlakukan Marx sebagai Tuhan! Waktu Hatta dimaki-maki oleh Nyonya Vodegel-Soemarmah dalam tulisannya, dia tak sedikit pun berniat untuk membakarnya, bahkan disimpannya secara baik-baik. Dengan cara yang sangat indah dan bijak, dibalaslah tulisan orang yang memaki-maki itu dengan tulisan pula, yang "maki-makian intelektual"-nya tak kalah dahsyat. Kedua, serangan Nyonya Vodegel-Soemarmah kepada Hatta -bahwa hanya marxis yang boleh bicara soal Karl Marx dan perjuangan kelas, dan karena Hatta bukanlah marxis maupun anggota komunis, maka dia dilarang untuk bicara soal Marx- telah dijawab dengan indah dan bijak pula. Hatta mengatakan bahwa mempelajari karya-karya Karl Marx tak harus menjadi marxis. Sebab, Karl Marx memiliki spektrum ajaran yang sangat luas. Marxisme merupakan salah satu pendekatan dalam konstruksi metodis yang cukup akurat di masa itu dan di wilayah itu. Di Indonesia, sosialisme bisa berkembang dalam banyak cara, baik dalam Islam (sosialisme Islam, sekali lagi Islam), rakyat Murba Tan Malaka, Marhaenis Soekarno, ekonomi kerakyatan Hatta, dan sebagainya. Tentu di sini berlaku lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Dua pengalaman di atas setidaknya bisa dijadikan acuan berpikir bagi kaum yang menolak komunisme bahwa tidak setiap orang yang belajar Marx, menulis tentang Marx, bahkan Lenin dan Stalin adalah orang yang komunis, dan dengan demikian bukunya harus dihancurkan karena tak sesuai dengan konstitusi. Ingatlah bahwa spketrum metode yang ditawarkan oleh Marx memiliki implikasi yang sangat luas, baik secara langsung maupun tidak. Marx juga tak pernah membenci agama secara sangat frontal karena dia memang dibesarkan dalam lingkungan Yahudi yang sangat taat. Tapi, dia sangat mengecam manakala agama telah menyeret bapaknya yang tercinta kepada tiang gantungan, di depan matanya sendiri saat Marx kecil. Marahlah seorang Karl Marx. Dalam kemarahannya itu, dia bergumam bahwa agama adalah candu, melelapkan tidur panjang manusia. Marx tidak hanya berkata, "Bangunlah wahai manusia dari belenggu dan dogma agama!, tapi juga bangunlah dari belenggu marxisme (sebab saya sendiri bukanlah seorang marxis). Di sisi lain, aksi pembakaran buku-buku yang berbau kiri setidaknya menyiratkan apa yang pernah ditakutkan oleh Marx, bahwa dogma telah menghancurkan segala sesuatu. Dogmatisme telah membawa manusia kepada jurang kesewenang-wenangan tiada ampun. Dan, tampaknya, persis bahwa aksi pembakaran buku ternyata berdiri di belakang layar dogmatisme itu sendiri. Dan membakar buku adalah melanggar HAM. Mungkin ini adalah tugas baru Komnas HAM, yakni mengusut dalang di balik pembakaran buku. *Saiful Arif adalah penulis buku dan direktur Penerbitan Averroes Press Universitas Muhammadiyah Malang Jawa Pos Sabtu, 12 Mei 2001

Kamis, 3 Oktober 2002
Kata Pengantar Buku "Aku Bangga Menjadi Anak PKI"Orientasi Adalah Bagian Dari Idiologi  Oleh: Abdurrahman Wahid 
Pengantar ini hanya membicarakan Bab I dari tulisan dr. Ribka Tjiptaning Proletariyati (selanjutnya, ditulis dr. Ribka, penulis), berjudul "Aku Bangga Menjadi Anak PKI". Ada dua alasan mengapa kata pengantar buku ini ditulis hanya mengenai Bab I, dan tidak mencakup bab II dan bab III. Pertama, dalam pembahasan bab II dan III, tanpa membahas tindakan pelanggaran konstitusi yang dilakukan Megawati Soekarnoputri, dkk, adalah merupakan kekurangan yang sangat besar, bahkan- boleh dikatakan penggelapan sejarah. Kedua, memang keseluruhan isi buku ini diberi kata pengantar berkenaan dengan orientasi dari ideologi yang dibawakan oleh institusi/lembaga bernama Partai Komunis Indonesia (PKI).   Banyak cara untuk meninjau idiologi tersebut, tetapi buku ini hanya membicarakan orientasi partai tersebut. Pembicaraan tentang orientasi PKI ini menunjukkan pembelaannya terhadap kepentingan rakyat kecil, yang oleh Karl Marx dan Friederich Angels disebut sebagai kaum proletar. Tetapi, komunisme dapat dilihat dari berbagai sudut yang tidak seluruhnya sesuai dengan azas peri-kemanusiaan.  Ketika Mao Zedong mengalahkan Chiang Kai -Sek tahun 1949 dari Beijing, ia segera memerintahkan pengadilan rakyat atas kaum borjuis dengan korban dua belas juta jiwa manusia ditembak mati di seluruh daratan China. Gerakannya untuk melakukan revolusi besar kebudayaan proletar memakan belasan juta jiwa, semua itu dilakukan untuk kemurnian budaya kaum proletar. Bagaimana kita harus menjelaskan hal ini secara kemanusiaan? Inilah yang membuat mengapa kata pengantar buku ini hanya dibatasi pada bab I belakang saja. Bahwa, penulis buku ini memiliki orientasi yang benar- hal itu tidak perlu diragukan lagi. Bahkan, orientasi itu sangat jelas berjalan seiring dengan orientasi penulisnya, yaitu rasa peri- kemanusiaan yang tinggi.  Dalam hal ini, penulis buku ini memiliki orientasi yang bersamaan dengan apa yang dimiliki oleh penulis pengantar buku ini. Ayah penulis pengantar buku ini adalah seorang pejuang gerakan Islam yang militan, tapi memiliki orientasi peri-kemanusiaan yang tinggi. Karenanya, ia selalu bersikap simpati kepada kepentingan rakyat kecil, sebagaimana ia dipahami dan dilihat sehari-hari. Kalau ayah dari dr. Ribka adalah seorang ningrat dengan kakayaan besar sebagai konglomerat waktu itu, orientasinya jelas berpihak kepada kepentingan rakyat. Ayah penulis pengantar buku ini- pun seorang putera Kyai besar yang diistimewakan oleh para pengikutnya dalam segala hal, tetapi ia membela kepentingan rakyat banyak dan ia tidak menjadi aktivis partai komunis, melainkan menjadi penggerak idiologi agama. Namun ia menentang negara agama, karena hal itu akan membedakannya dari kedudukan warga negara non-muslim.   Sangatlah menarik untuk berspekulasi, bersediakah ayah dr.Ribka menerima gagasan DN Aidit tentang sebuah negara komunis? Bisakah ia menjadi seorang Boris Pasternak yang kecewa pada komunis? Dapatkah ia menjadi Milovan Djilas, yang menganggap para fungsionaris partai komunis Yugoslavia sebagai kaum apparatchik penindas rakyat dengan demikan menjadi "kelas baru"?   Karena alasan di atas, penulis kata pengantar buku ini lebih mengutamakan aspek peri-kemanusiaan dari aspek-aspek yang lain. Dari buku ini, tampak sekali generasi muda banyak memiliki orientasi kerakyatan dan mereka menyatakan berpegang pada sebuah idiologi. Sikap ini sekaligus mengungkapkan kelemahan dan kekuatan pendekatan orientatif yang mereka miliki. Kelemahannya, dengan tidak berpegang pada "sisi keras" idiologi seperti ini, tidak satupun idiologi yang berhasil diterapkan secara menyeluruh di dalam kehidupan masyarakat bangsa kita. Dengan demikian, bangsa kita menjadi apa yang dikatakan Gunnar Myrdal sebagai "bangsa lunak" (soft nation).   Kekuatannya, orientasi kerakyatan tersebut akan tetap menjadi panduan kita sebagai bangsa dan kita tidak akan pernah terpecah-pecah secara serius. Saudara dr.Ribka yang komunis dan penulis kata pengantar buku ini yang Islamis dapat bergaul dengan mudah karena kami berdua penganut asas peri-kemanusiaan. Idiologi adalah perambah jalan bagi kita berdua.  (Ketika mendiktekan kata pengantar buku ini, penulis kata pengantar buku ini (Abdurrahman Wahid red) baru saja mendapat pesan dari mantan Presiden Soeharto, diajak melepas Tommy Soeharto dari penjara Cipinang ke Nusa Kambangan. Walaupun Tommy Soeharto pernah mengeluarkan uang belasan milyar rupiah untuk demo melengserkan penulis kata pengantar buku ini dari kursi kepresidenan, dengan langsung ia menjawab bersedia).  Bukankah Tommy Soeharto berada dalam kedudukan sebagai narapidana, dan mantan Presiden Soeharto menunjukkan penghormatan yang besar pada kedaulatan hukum? Bahwa nama Soeharto, atau dirinya sekalipun, pernah digunakan untuk menindas orang lain, bagi seseorang seperti penulis kata pengantar ini, mengharuskannya menghormati mantan Presiden tersebut. Inilah konsekuensi terjauh dari sikap berperikemanusiaan yang dianut oleh penulis kata pengantar buku ini.  Karena sikap seperti inilah, lalu penulis kata pengantar buku ini dihujat oleh sementara aktivis gerakan Islam yang disebut "muslim garis keras", karena mengusulkan dicabutnya Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (TAP MPRS) No. XXV tahun 1966, yang melarang penyebaran Marxisme-Leninisme dan Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai sesuatu yang tidak demokratis. Sikap menolak TAP MPRS tersebut, karena atas dasar perikemanusisan. Dalam bahasa komunisme, sikap ini membuat penulis pengantar buku ini sebagai "sesama pejalan" (fellow traveler), karena rasa peri-kemanusiaan yang tinggi.   Memang sikap seperti ini sering dianggap sebagai sesuatu yang bersifat tanggung-tanggung, dan tidak akan pernah menghasilkan negara yang benar-benar komunis, nasionalis ataupun Islam. Tapi, bukankah ini jauh lebih baik dari pembantaian dan penjagalan manusia secara besar-besaran, seperti yang terjadi di tempat-tempat lain? Dalam sejarah umat manusia, hal ini sering kita jumpai- misalnya, Akhnaton dalam sejarah Mesir kuno, Gramsci di lingkungan kaum komunis pada tahun-tahun 60-an, adalah contoh dari sikap ini. Panglima besar Jenderal Sudirman yang memimpin Amgkatan Perang kita dari tahun 1945 hingga 1949, adalah contoh yang sangat baik dalam hal ini.  Kalau mengingat hal ini, maka kita harus bersyukur memiliki ribuan orang pencipta idiologi yang memiliki rasa peri-kemanusiaan yang tinggi. Ini yang menerangkan mengapa dr.Ribka- yang berasal dari keluarga ningrat dan golongan borjuis menjadi anggota PKI. Ini juga yang menerangkan mengapa Megawati Soekarnoputri yang berasal dari keluarga rakyat kemudian mengikuti aspirasi borjuis yang ada. Intinya, karena dalam masyarakat kita sangat kecil jumlahnya orang-orang yang benar-benar memiliki idiologi seperti di negeri-negeri lain-seperti dikatakan di atas. Hal ini menjadi kelemahan dan sekaligus kekuatan kita sebagai bangsa. Dikatakan kekuatan, kalau rasa perikemanusiaan itu dapat diterjemahkan dalam usaha-usaha yang luas untuk mewujudkan prinsip peri-kemanusiaan. Kalau tidak, akan menjadi kelemahan yang dapat menggerogoti capaian-capaian yang diraihnya di masa lampau. Sumpah serapah dan maki-makian atas tidak idiologisnya perjuangan yang dilakukan, seperti yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Islam kanan yang berhaluan keras terhadap "perjuangan kaum tradisional", menggambarkan kenyataan yang sangat memilukan akan munculnya gerakan Islam dari kaum kanan dalam upaya idiologisasi yang mereka lakukan. Ini adalah sebuah kenyataan yang harus diterima sungguh-sungguh, apabila diinginkan upaya penyebaran Islam secara idiologis. Kalau tidak demikian, satu-satunya cara adalah perjuangan kultural. Pengingkaran atas kenyataan ini hanya akan menghasilkan sikap sok pahlawan, yang justru tidak mencerminkan sikap bangsa kita yang menginginkan salah satu dari pendekatan ini: pendekatan kultural, yang sama sekali tidak didasarkan pada upaya kemasyarakatan. Jakarta, 10 Agustus 2002  Abdurrahman Wahid, Kata Pengantar Buku "Aku Bangga Menjadi Anak PKI" Biografi dr. Ribka Tjiptaning Proletariyati, 2002.
Nama:Ir. Soekarno
Nama Panggilan:Bung Karno
Nama Kecil:Kusno.
Lahir:Blitar, Jatim, 6 Juni 1901
Meninggal:Jakarta, 21 Juni 1970
Makam:Blitar, Jawa Timur
Gelar (Pahlawan):Proklamator
Jabatan:Presiden RI Pertama (1945-1966)
Isteri dan Anak:Tiga isteri delapan anak
Isteri Fatmawati, anak: Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh
Isteri Hartini, anak: Taufan dan Bayu
Isteri Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto, anak: Kartika.

Ayah:Raden Soekemi Sosrodihardjo
Ibu:Ida Ayu Nyoman Rai
Pendidikan:HIS di Surabaya (indekos di rumah Haji Oemar Said Tokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam)
HBS (Hoogere Burger School) lulus tahun 1920
THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi ITB) di Bandung lulus 25 Mei 1926

Ajaran:Marhaenisme
Kegiatan Politik:Mendirikan PNI (Partai Nasional Indonesia) pada 4 Juli 1927
Dipenjarakan di Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929
Bergabung memimpin Partindo (1931)
Dibuang ke Ende, Flores tahun 1933 dan Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu.
Merumuskan Pancasila 1 Juni 1945
Bersama Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945
<index.shtml> <guru_bangsa.shtml> 3  <pidato_menggugat.shtml>4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
Proklamator Soekarno (2)
Bung Karno sebagai Guru Bangsa

Oleh Baskara T Wardaya

Di antara banyak predikat yang telah diberikan kepada Bung Karno, patutlah kiranya pada peringatan ulang tahunnya yang ke-102 ini ia juga dikenang sebagai guru bangsa. Sebagai pencetus maupun komunikator, banyak pemikiran penting telah menjadi sumbangan pendidikan tak terhingga bagi negara-bangsa ini.

Layaknya seorang guru yang cakap, ia mampu menyampaikan gagasan-gagasan penting dengan lancar, penuh imajinasi, dan komunikatif. Di tangannya, topik-topik bahasan yang sebenarnya berat menjadi gampang dicerna, mudah dipahami masyarakat luas.

Ingat, misalnya, saat secara berkala pada tahun 1958-1959 ia memberikan rangkaian "kuliah" guna menjelaskan kembali sila demi sila dari Pancasila sebagai dasar negara, masing-masing satu sila setiap kesempatan "tatap muka." Pada 26 Mei 1958 ia memulai rangkaian itu dengan memberi kuliah tentang pengertian umum Pancasila. Setelah menyampaikan penjelasan tentang berbagai bentuk kapitalisme dan perlawanan terhadapnya, ia menekankan bahwa Pancasila bukan hanya merupakan pandangan hidup, melainkan juga alat pemersatu bangsa.

Kuliah pembukaan itu disusul kuliah-kuliah serupa lain yang biasanya diadakan di Istana Negara dan disiarkan langsung melalui radio ke seluruh penjuru Tanah Air. Berbeda dengan pidato-pidato Bung Karno di depan massa yang biasanya berapi-api membakar semangat rakyat, kuliah-kuliah ini berjalan lebih rileks dan komunikatif.

Dengan kuliah-kuliah itu tampaknya Bung Karno ingin sekaligus mengingatkan, Istana Negara bukan tempat sangar atau sakral yang hanya boleh dimasuki presiden dan pejabat maha penting negeri ini, tetapi Istana milik rakyat, tempat masyarakat belajar mengenai banyak hal, termasuk dasar negara. Ia ingin menjadikan Istana (dan mungkin Indonesia umumnya) sebagai "ruang kuliah" di mana terselenggara proses belajar-mengajar antara masyarakat dan pemimpinnya.

Teori dan praksis

Dari teori-teori filsafat dan politik serta acuan-acuan historis yang digunakan dalam mengurai sila-sila Pancasila, tampak pengetahuan Soekarno amat luas dan dalam. Dalam uraian-uraiannya, tidak jarang ia menyitir pikiran Renan, Confusius, Gandhi, atau Marx. Dengan begitu, ia seolah ingin menunjukkan dan memberi contoh, tiap warga negara perlu terus memperluas pengetahuannya. Meski ia sendiri sebenarnya dididik sebagai orang teknik, namun amat akrab dengan ilmu-ilmu sosial, terutama filsafat, sejarah, politik, dan agama.

Dalam salah satu kuliahnya Bung Karno menyinggung kembali pertemuan dan dialognya dengan petani miskin Marhaen. Dialog sendiri sudah berlangsung jauh sebelumnya, tetapi ia masih mampu mengingat dan menggambarkan amat jelas. Ini menandakan, Soekarno menaruh perhatian pada perjumpaannya dengan wong cilik, rakyat jelata, dan ingin menjadikannya sebagai titik tolak perjuangan bersama guna membebaskan rakyat Indonesia dari belenggu kemiskinan dan ketidakadilan. Baginya retorika memperjuangkan rakyat yang tidak disertai perjumpaan-perjumpaan langsung dengan rakyat adalah omong kosong.

Dengan kata lain, sebagai guru bangsa ia tak suka hanya berkutat di dunia teori, tetapi juga menceburkan diri ke realitas kehidupan sehari-hari bangsanya. Bung Karno selalu berupaya keras mempertemukan "buku" dengan "bumi," menatapkan teori-teori sosial-politik dengan realitas keseharian manusia Indonesia yang sedang ia perjuangkan.

Bung Karno terus mempererat kaitan teori dan praksis, refleksi dan aksi. Mungkin inilah salah satu faktor yang membedakannya dari pemimpin lain, baik yang sezamannya maupun sesudahnya.

Perlu diingat, lepas dari apakah orang setuju atau tidak dengan uraian dan gagasannya, satu hal tak dapat diragukan tentang Soekarno: ia bukan seorang pejabat yang korup. Sulit dibayangkan, Soekarno suka menduduki posisi-posisi tertentu di pemerintahan karena ingin mencuri uang rakyat atau menumpuk kekayaan untuk diri sendiri.

Perjuangan Soekarno adalah perjuangan tulus, yang disegani bahkan oleh orang-orang yang tak sepaham dengannya. Karena itu, tak mengherankan betapapun ruwetnya ekonomi Indonesia di bawah pemerintahaannya, tak terlihat kecenderungan pejabat-pejabat pemerintah di zaman itu yang tanpa malu korupsi atau berkongkalikong menjual sumber-sumber alam milik rakyat.

Absennya guru-guru lain

Bagaimanapun juga, sebagai seorang manusia Bung Karno bukan tanpa kelemahan. Dalam kapasitasnya sebagai pejabat negara, misalnya, ia tampak "menikmati" posisinya sehingga ada kesan ia tak lagi menempatkan diri sebagai seorang pelayan publik dalam tata masyarakat demokratis. Sebagai presiden seharusnya ia menyadari kedudukannya sebagai seseorang yang menjabat sejauh rakyat memberi mandat padanya, itu pun disertai batasan masa jabatan tertentu.

Rupanya Bung Karno tidak terlalu menghiraukan hal itu. Karenanya ketika tahun 1963 diangkat sebagai presiden seumur hidup, ia tidak menolak.

Sebagai seorang guru yang memandang negerinya sebagai sebuah "ruang kuliah" raksasa dan rekan-rekan sebangsanya sebagai "murid-murid" yang patuh, terkesan Bung Karno tak memerlukan adanya "guru-guru" lain. Ia tak keberatan akan keberadaan mereka, tetapi-sadar atau tidak-"gaya mengajar"-nya mendorong tokoh-tokoh lain yang potensial untuk juga menjadi guru bangsa terpaksa menyingkir atau tersingkir.

Kita belum lupa ketika pada 1 Desember 1956 Bung Hatta mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden. Kita juga masih ingat bagaimana orang-orang dekat Bung Karno-seperti Sjahrir, Amir Syarifuddin, Tan Malaka, Moh Natsir, dan lainnya-satu per satu menjauh darinya.

Pada pertengahan 1950-an rupanya perhatian Bung Karno yang begitu besar kepada posisinya sendiri membuatnya kurang menyadari bahwa dampak Perang Dingin telah kian jauh merasuki Indonesia. Kemenangan PKI dalam Pemilu 1955 dan pemilu daerah tahun 1957, misalnya, telah benar-benar mempengaruhi perhatian dan kebijakan para pelaku utama Perang Dingin terhadap Indonesia.

Di satu pihak, Cina dan Uni Soviet menyambut kemenangan itu dengan gembira karena menandakan kian meluasnya komunisme di Indonesia. Di lain pihak, bagi AS dan sekutunya, kemenangan itu meningkatkan ketakutan mereka bahwa Indonesia akan "lepas" dari lingkaran pengaruh Barat. Dalam pola pikiran teori domino, lepasnya Indonesia akan berarti terancamnya kepentingan-kepentingan Barat di Asia Tenggara.

Sedikit demi sedikit panggung ketegangan pun dibangun. Tahun 1965-1966 panggung itu dijadikan arena pertarungan berdarah antara PKI dan unsur-unsur bersenjata yang didukung Barat. Bung Karno sadar, tetapi terlambat. Dengan gemetar ia terpaksa menyaksikan ratusan ribu rakyat yang ia cintai dibantai secara terencana dan brutal.

Sedikit demi sedikit ia dijepit. Akhirnya guru bangsa yang besar ini disingkirkan dari panggung kekuasaan. Ia pun wafat sebagai seorang tahanan politik yang miskin, di negeri yang kemerdekaannya dengan gigih ia perjuangkan.

Akhir hidup Bung Karno memang memilukan. Tetapi ajaran-ajarannya sebagai guru bangsa tetap relevan dan penting untuk negara-bangsa ini. Orang dapat belajar tidak hanya dari apa yang dikatakan, tetapi juga dari tindakan, berikut keunggulan dan kelemahannya. Kita berharap kaum muda negeri ini tak jemu untuk terus belajar dari sejarah, termasuk dari Bung Karno sebagai guru bangsa.(*Dr Baskara T Wardaya SJ Mengajar di Jurusan Sejarah Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta)

*** Ensiklopedi Tokoh Indonesia, sumber Kompas 6/6/03








MUHAMMAD MENGAJARKAN SOSIALISME JAUH SEBELUM KARL MARX

Oleh: Alam Tulus


Menurut "Buku putih" (G.30-S Pemberontakan PKI) yangditerbitkan oleh Sekneg pada tahun 1994, bahwa pertentangan di dalam tubuh SI mencapai puncaknya pada Kongres
Nasional VI SI bulan Oktober 1921 di Surabaya.  Fraksi komunis yang dipimpin oleh Semaun dan Tan Malaka berusaha mengendalikan dan menguasai jalannya Kongres, tapi usaha mereka ini ditentang oleh seorang tokoh SI, H.Agus Salim. H. Agus Salim menjawab semua argumen Semaun dan Tan Halaka dengan mengatakan bahwa, "Nabi Muhammad SAW sudah mengajarkan sosialisme sejak seribu dua ratus tahun sebelum Karl Marx" (hal: 11).

Sangat sayang, H. Agus Salim tidak menjelaskan isi ajaran Sosialisme yang diberikan Nabi Muhammad tsb dan juga tidak menjelaskan mengapa setelah 14 abad lamanya, ajaran sosialisme yang diajarkan Nabi Muhammad itu belum membumi. Ajaran sosialisme dari Nabi Muhammad tsb tentu bersumber dari dari Al Quran.
Marilah kita kaji ayat-ayat yang terdapat dalam Al-Quran dan tanggapan sementara tokoh-tokoh agama Islam terhadap sosialisme yang diajarkan Nabi Muhammad tsb.

KONSEP KEADILAN KOLEKTIF
Islam pada dasarnya merupakan agama pembebasan, ujar Mansour Fakih dalam tulisannya "Mencari Teologi untuk Kaum Tertindas". Seperti diketahui di Mekkah pada zaman Nabi lahir, adalah salah satu pusat perdagangan dan transaksi komersial internasional. Keadaan ini melahirkan Mekkah menjadi pusat kapitalisme, yakni terbentuk karena proses korporasi antar suku, yang menguasai dan memonopoli perdagangan kawasan Bizantium. Watak kapitalisme yang mengakumulasikan kapital dan memutarnya demi keuntungan yang lebih besar ini, berjalan melawan norma suku-suku di Semenanjung Arab pada saat itu. Akibat dari budaya kapitalisme tsb, lahirlah ketimpangan dan kesenjangan sosial di Mekkah, yakni semakin melebarnya jurang antara si kaya dan si miskin. Dalam konteks inilah sesungguhnya Muhammad lahir.

Dengan demikian jelaslah kiranya bahwa perlawanan terhadap Muhammad oleh kaum kapitalis Mekkah, sebenarnya lebih karena ketakutan terhadap doktrin egalitarian yang dibawakan oleh Muhammad. Oleh karena itu persoalan yang timbul antara kelompok elite Mekkah dan Muhammad sebenarnya, bukan seperti yang banyak diduga umat Islam, yakni hanya persoalan "keyakinan agama", akan tetapi lebih bersumber pada ketakutan terhadap konsekuensi sosial ekonomi, dari doktrin Muhammad yang melawan segala bentuk dominasi ekonomi, pemusatan dan monopoli harta. Dalam kaitan ini sesungguhnya misi utama Muhammad adalah dalam rangka membebaskan masyarakat dari segalabentuk penindasan dan ketidak adilan.

Dalam perspektif teologi kaum tertindas, ujar Mansour Fakih, peran seorang Rasul seperti Muhammad, Isa dan yang lain adalah sebagai seorang pembebas kaum tertindas. Musa, misalnya, sebagaimana Muhammad juga, tugas utamanya adalah membebaskan bangsa Israil dari penindasan dan eksploitasi yang dilakukan Firaun. Watak dari teologi pembebasan untuk kaum tertindas ini, selanjutnya juga telah dikembangkan oleh kelompok Khawarij.  Merekalah yang pertama-tama dalam sejarah Islam mengembangkan doktrin demokrasi dan sosialisme agama.

Kebangkitan gerakan Khawarij juga dilatar belakangi oleh fenomena kontradiksi ekonomi yang muncul dalam bentuk persoalan kepemimpinan dan masyarakat. Kontradiksi ini melahirkan kelompok Khawarij, suatu aliran yang menekankan pada konsep keadilan kolektif. Konsep keadilan kolektif inilah yang jadi asal muasal pandangan sosialistis dalam Islam (hal: 172-173, dalam buku "Refleksi Pembaharuan Pemikiran Islam", 1989)

Sosialisme yang diajarkan Nabi Muhammad tsb tentu adalah sosialisme yang hendak membebaskan kaum tertindas dan menjadikan kaum tertindas tsb sebagai pemimpin di bumi dan itu adalah tingkat rendah dari masyarakat Tauhidi (ummat yang satu, tanpa kelas-kelas).

SOSIALISME DALAM AL QURAN

Ajaran-ajaran sosialisme dari Nabi Muhammad SAW tentu berdasarkan ayat-ayat yang terdapat dalam Al Quran. AL Quran cukup jelas mengutuk orang-orang yang menumpuk-numpuk harta, hendak menjadikan kaum tertindas dan miskin (mustadhafin) menjadikan pemimpin di bumi dan mewarisi bumi, guna menuju ummat yang satu (tauhidi). Marilah kitacermati ayat-ayat tsb.

a. TERKUTUKLAH ORANG-ORANG YANG MENUMPUK-NUMPUK HARTA

Bahwa Islam menentang sistem kapitalisme cukup gamblang diwakili oleh Surat al Humazah ayat 1-4. Dimana dikatakan: Celakalah, azablah untuk tiap-tiap orang pengumpat dan pencela. Yang menumpuk-numpuk harta benda dan menghitung-hitungnya. Ia mengira, bahwa hartanya itu akan mengekalkannya (buat hidup di dunia). Tidak, sekali-kali tidak, sesungguhnya dia akan ditempatkan ke dalam neraka (hutamah).

Menjadi pertanyaan: dari mana mereka peroleh harta yang mereka tumpuk-tumpuk tsb? Tentu tidak hanya dari hasil keringatnya sendiri, melainkan juga dari hasil keringat orang lain, dengan melalui berbagai cara yang tidak halal. Padahal surat Al Baqarah ayat 188 dengan tegas mengatakan:
"Janganlah sebagian kamu memakan harta orang lain dengan yang batil (tiada hak) dan (jangan) kamu bawa kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta orang dengan berdosa, sedang kamu mengetahuinya".

Juga cukup jelas surat Al An'am ayat 145 mengatakan haram memakan darah yang mengalir. Haram memakan darah yang mengalir itu bukan hanya secara harfiah, misalnya melukai sebagian kulit seseorang kemudian dihirup darahnya yang mengalir di tempat yang dilukai tsb, tetapi yang lebih mendalam ialah menghisap atau memeras tenaga kerja orang lain untuk keuntungan dirinya. Seperti yang dilakukan kaum kapitalis terhadap kaum buruhnya. Kaum buruhnya tidak akan bisa diperas atau dihisapnya, sekiranya darahnya tidak-mengalir lagi dalam tubuhnya. Jadi, menghisap tenaga kerja kaum buruh, adalah sama dengan memakan darah yang mengalir dalam tubuh kaum buruh tsb.

Menurut HOS Tjokroaminoto melalui bukunya "Islam dan Sosialisme" yang ditulisnya pada bulan November 1924 di Maitarat, bahwa menghisap keringatnya orang-orang yang
bekerja, memakan hasil pekerjaan lain orang, tidak memberikan bagian keuntungan yang mestinya (dengan seharusnya) menjadi bahagian lain orang yang turut bekerja mengeluarkan keuntungan --semua perbuatan yang serupa itu (oleh Karl Marx disebut memakan keuntungan "meerwaarde" (nilai lebih -pen) adalah dilarang dengan sekeras-kerasnya oleh agama Islam, karena itulah perbuatan "riba" belaka. Dengan begitu maka nyatalahagama Islam memerangi kapitalisme sampai pada "akarnya", membunuh kapitalisme mulai dari pada benihnya. Oleh karena pertama-tama sekali yang menjadi dasarnya kapitalisme, yaitu memakan keuntungan meerwaarde sepanjang fahamnya Karl Marx dan "memakan riba", sepanjang fahamnya Islam (hal:  17).

b. YANG TERTINDAS HENDAK DIJADIKAN PEMIMPIN

Bahwa agama Islam itu adalah agama pembebasan bagi kaum tertindas dan miskin,jelas sekali dikemukakan surat Al Qashash ayat 5 dan 6 yang berbunyi: "Dan kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas (mustadhafin atau dhuafa) di bumi dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi bumi. Dan kami tegakkan kedudukan mereka di bumi."

Dari ayat ini jelas sekali bahwa Tuhan secara terbuka memihak kepada kaum mustadhafin dalam perjuangannya melawan kaum mustakbirin (para tiran, angkuh dan kaya). Tuhan tidak bersikap netral dalam pertentangan antara kaum tertindas melawan kaum penindas.

Bila kaum mustadhafin sudah menjadi pemimpin di bumi, maka tentu telah tertutup jalan bagi kaum mustakbirin melakukan penindasan lagi terhadap kaum Mustadhafin dan itulah Sosialisme Islam.

Menurut Asghar Ali Engineer melalui bukunya "Islam dan Pembebasan" bahwa pertarungan antara mustadhafin dan mustakbirin itu akan terus berlangsung, hingga Din Allah yang berbasis pada Tauhid menyatakan semua rakyat (tanpa perbedaan lagi antara mustadhafin dan mustakbirin, orang-orang yang menindas dan orang-orang yang tertindas, kaya dan miskin) sehingga menjadi suatu masyarakat "tanpa kelas".

Dari perspektif ini jelaslah bahwa Al Quran menghadirkan suatu teologi pembebas dan dengan demikian membuat teologi yang sebelumnya mengabdi kepada kelompok penguasa yang eksploitatif menjadi teologi pembebasan. Sayangnya, Islam dalam fase-fase berikutnya, justru mendukung kemapanan itu. Tugas generasi baru Islam lah untuk merekonstruksi lagi teolosi Islam revolusioner transformatif dan membebaskan itu (hal:l4).

Penilaian Asghar Ali Engineer yang terakhir ini sejalan dengan penilaian Ulil Abshar Abdallah melalui bukunya "Membakar Rumah Tuhan".  Menurut Ulil Abshar Abdallah bahwa persis hal ini dengan apa yang terjadi pada agama Islam: semula menjadi agama emansipatoris yang membawa aspirasi pembebasan dan perubahan, sekarang menjadi agama yang diperalat guna melegitimasi suatu tatanan (status quo) (1999, hal: 44).

c. MASYARAKAT TAUHIDI, TANPA KELAS-KELAS

Cukup jelas Tuhan melalui surat Al Mukminun ayat 52 mengatakan:  "Sesungguhnya ini, ummat kamu, ummat yang satu dan Aku Tuhanmu, sebab itu takutlah kepada Ku."

Menurut Mansour Fakih dalam tulisannya "Mencari Teologi untuk Kaum Tertindas", bahwa doktrin tauhid adalah tema pokok setiap teologi dalam Islam. Tauhid dalam teologi pembaharuan, berkisar sekitar ke-Esaan Tuhan, dengan penolakan terhadap penafsiran terhadap Tuhan. Tauhid dalam perspektif "teologi kaum tertindas" lebih ditekankan kepada keesaan ummat manusia.

Dengan kata lain doktrin Tauhid menolak segenap bentuk diskriminasi dalam bentuk warna kulit, kasta ataupun kelas. Konsep masyarakat Tauhidi adalah suatu konsep penciptaan masyarakat tanpa kelas (hal: 173).

Dalam masyarakat Tauhidi ini, ummat benar-benar satu, tidak dibedakan lagi karena kedudukan sosial, karena jenis kelamin, karena warna kulit dsb. Dan itu adalah sama dengan masyarakat komunis. Masyarakat Tauhidi ini, adalah tingkat yang lebih tinggi dari masyarakat yang dijanjikan Tuhan:

"Akan menjadikan kaum mustadhafin menjadi pemimpin di bumi dan mewarisi bumi."

Untuk bisa membuminya isi surat Al Qashash ayat 5-6 sebagai langkah awal menuJu masyarakat Tauhidi (ummat yang satu), maka kaum mustadhafin harus mengamalkan Surat Al Ra'du ayat 11, yang berbunyi: "Sesungguhnya Allah tiada mengubah keadaan suatu kaum, kecuali jika mereka mengubah keadaan diri mereka."
Menurut petunjuk Al Quran tsb, bila kaum Mustadhafin (tertindas dan miskin) tidak mengubah keadaan diri mereka, tidak berjuang melepaskan belenggu yang dililitkan
mustakbirin di leher dan di kakinya, maka mereka tetap akan tertindas dan miskin. Kaum mustadhafin tidak akan berubah keadaannya, bila mereka hanya mengharap belas kasihan kaum mustakbirin.  Kaum mustakbirin tidak akan dengan sukarela melepaskan belenggu yang mereka pasungkan pada leher dan kaki mustadhafin. Perjuangan melepaskan belenggu dari tubuh kaum mustadhafin adalah perjuangan kelas dalam bahasa Karl Marx, "usaha kaum" dalam bahasa Ar Ra'du ayat 11.

Malahan supaya kaum mustadhafin ini bisa bebas dari penindasan, Tuhan memperingatkan ummat Islam melalui surat An Nisa ayat 75: "Mengapa kamu tiada mau berperang di jalan Allah dan (membela) orany-orang yang lemah baik laki-laki, perempuan-perempuan, dan kanak-kanak yang semuanya berdoa:

"Ya, Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri yang zalim penduduknya dan berilah kami perlindungan dari sisiMu, dan berilah kami penolong dari sisiMu"."

Dengan demikian jelas bahwa berjuang (berperang) diizinkan Al Quran untuk mengakhiri kezaliman dan untuk melindungi orang-orang yang lemah dari penindasan orang-orang kuat.

Al Quran tidak mengizinkan berperang untuk memaksa seseorang memeluk agama Islam. Hal itu dengan tegas telah dikatakan Tuhan: "La ikraha fi al Din" (tidak ada paksaan dalam agama). Malah surat Al Kafirun dengan tegas mengatakan:
"Katakanlah hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah dan engkau tidak akan menyembah apa yang aku sembah.  Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku".

TITIK PERTEMUAN ISLAM DAN KOMUNISME

AK Pringgodigdo SH dalam bukunya "Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia" mengemukakan bahwa H. Misbach, seorang komunis keagamaan 76 tahun yang lalu, di depan Kongres PKI di Bandung pada tanggal 4 Maret 1925 menunjukkan dengan ayat-ayat Al-Quran, hal-hal yang bercocokan antara komunisme dan Islam (antaranya, kedua memandang sebagai kewajiban, menghormati hak-hak manusia dan bahwa keduanya berjuang terhadap penindasan) dan diterangkannya juga, bahwa seseorang yang tidak menyetujui dasar-dasar komunis, mustahil ia seorang Islam sejati; dosanya itu adalah lebih besar lagi, kalau orang memakai agama Islamsebagai selimut untuk mengkayakan diri sendiri. Komunisme menghendaki lenyapnya kelas-kelas manusia (hal: 28).

Seorang Bung Karno melalui tulisannya "Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme" mengatakan: "Kaum Islamis tidak boleh lupa, bahwa kapitalisme musuh marxisme itu, ialah musuh Islamisme pula"; "Islamis yang "fanatik" dan memerangi marxisme, adalah Islamis yang tak kenal larangan-larangan agamanya sendiri"; "Hendaknya kaum itu sama ingat, bahwa pergerakannya itu dengan pergerakan marxis, banyak persesuaian cita-cita, banyaklah persamaan tuntutan-tuntutan" (DBR, hal: 12-15-14).

KESIMPULAN

H. Agus Salim benar bahwa Nabi Muhammad SAW telah mengajarkan Sosialisme seribu dua ratus tahun sebelum MarX. Karena Manifes Komunis yang terbit pada tahun 1848 adalah hasil studi Karl Mark tentang perkembangan sistem masyarakat sebelumnya. Tentu juga termasuk, baik secara langsung atau tidak, Sosialisme yang diajarkan Nabi Muhammad tsb.

Karena tujuan yang hendak dicapai Islam dengan komunis sama-sama masyarakat tanpa kelas (Tauhidi-komunis) dan hal itu akan terwujud melalui tingkatan masyarakat sosialis
(mustadhafin menjadi pemimpin di bumi).  Masyarakat sosialis baru terwujud atas "usaha kaum" atau perjuangan kelas, maka sudah pada tempatnya kerjasama komunis untuk merebutnya. Hanya saja kaum kapitalis (mustakbirin) berkepentingan mencegah terjadinya kerjasama Islam dan komunis, agar kaum kapitalis tetap dapat berkuasa.

Karena Sosialisme adalah ajaran Nabi Muhammad SAW sendiri, maka semestinya setiap yang mengaku Muhammad itu adalah Rasullullah, ia akan memperjuangkan untuk adanya sosialisme itu. Itu sebagai langkah awal untuk membuminya masyarakat Tauhidi di Indonesia. Karena itu terasa aneh, karena dewasa ini di Indonesia, tidak ada satu partai yang memakai bendera Islam yang mengibarkan panji-panji Sosialisme. Malah
ada yang menentang Sosialisme.

Hal itu sudah disinyalir oleh Ulil Abshar Abdalla bahwa ada orang Islam yang diperalat guna melegitimasi suatu tatanan (status quo). Sesungguhnya orang yang mengaku Islam, tetapi tidak berjuang untuk membumikan masyarakat Tauhidi (ummat yang satu), tentu dipertanyakan keIslamannya: apakah mereka benar-benar pengikut Nabi Muhammad Saw, atau tidak? Jika ya, tentu mereka akan mendukung tegaknya masyarakat Tauhidi tsb. Bila tidak, soalnya menjadi lain. ***
: http://www.google.com/search?q=cache:KvzlPMCzJuEJ:www.tf.itb.ac.id/~eryan/FreeArticles/SosialismeIslam.html+islam+dan+marxisme+di+indonesia&hl=en&ie=UTF-8

Renungan dan catatan tentang BUNG KARNO (11)
BELAJAR DARI PANDANGAN 
BUNG KARNO TENTANG MARXISME
(Oleh : A. Umar Said)

Mohon diperkenankanlah hendaknya, bahwa tulisan kali ini, di samping  disajikan kepada para pembaca, dimaksudkan juga sebagai surat terbuka yang  bersisi curahan-hati dan imbauan kepada para pimpinan dan kader-kader  Nahdatul Ulama, Muhammadiayah, Majlis Ulama Indonesia, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Amanat Nasional, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Golkar, Partai Bulan Bintang, Partai Keadilan, Partai Nahdatul Umat, Partai Masyumi, Partai Syarikat Islam Indonesia, dan juga partai-partai lainnya yang tidak disebutkan (karena terlalu panjang!). Juga mohon diperbolehkan kiranya, sebagai seruan atau ajakan kepada para pimpinan pondok pesantren dan berbagai organisasi Islam, untuk merenungkan hal serius yang berikut :
Menurut berita yang sudah tersiar di luarnegeri, sejak beberapa hari ini toko-toko buku Gramedia, baik yang di Jakarta maupun yang di kota-kota lain, terpaksa menarik dari peredaran buku-buku yang mengandung ajaran Marxisme, komunisme atau ajaran-ajaran kiri lainnya. Sekitar 30 judul buku sudah dihilangkan dari rak-rak penjualan, termasuk buku karya pengarang ternama : Pramoedya Ananta Toer, filosuf Frans Magnis Suseno dan pengamat politik Hermawan Sulistyo. Langkah ini telah diambil oleh pimpinan Gramedia, karena ada ancaman dari Aliansi Anti Komunis dan Gerakan Pemuda Islam bahwa mereka akan menyerbu toko-toko buku Gramedia dan membakari buku-buku yang berbau kiri.
Menurut pimpinan Gerakan Pemuda Islam (GPI), sekitar 36 000 anggota GPI Jakarta Raya akan melancarkan aksi-aksi terhadap toko-toko terkemuka di Jakarta pada tanggal 20 Mei yad, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Aksi ini untuk menunjukkan komitmen mereka dalam menentang komunisme. Gramedia mempunyai 42 cabang di seluruh negeri, dan 16 di antaranya terdapat di Jakarta. (kutipan dari Jakarta Post 3 Mei 2001). *
Apa yang terkandung dalam berita tersebut di atas patutlah kiranya mendapat perhatian yang serius dari para tokoh-tokoh dari berbagai kalangan Islam. Sebab, kalau rencana aksi tersebut jadi dilaksanakan juga, maka akan menimbulkan akibat-akibat yang tidak menguntungkan siapa saja. Sebaliknya, aksi-aksi semacam itu akan merugikan kita semua sebagai bangsa, dan juga akan bisa merugikan citra Islam sebagai keseluruhan, walaupun hanya dilakukan oleh sebagian kecil dari kalangan Islam. Marilah persoalan ini
sama-sama kita telaah dari berbagai segi, demi kepentingan kita semua.

Selama ini, citra Indonesia sudah sangat buruk di arena internasional, sebagai akibat begitu banyaknya pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan secara besar-besaran oleh rezim militer Orde Baru/GOLKAR selama puluhan tahun (harap ingat, antara lain : pembunuhan massal jutaan orang tidak bersalah dalam tahun 65/66, penahanan terhadap orang-orang tidak bersalah selama puluhan tahun, perlakuan terhadap para eks-tapol beserta keluarga mereka, dimatikannya demokrasi, kasus Timor-Timur dll). Citra yang sejak lama sudah buruk ini, akhir-akhir ini masih, dan makin, diperburuk lagi dengan adanya permusuhan berdarah antar-agama atau antar-suku. Di samping itu, masalah korupsi besar-besaran yang begitu banyak dilakukan oleh para tokoh Orde Baru/GOLKAR (yang kebanyakan juga mengaku beragama Islam!) menambah juga buruknya citra bangsa kita sebagai keseluruhan. Bagi banyak orang Indonesia yang tinggal di luarnegeri, masalah ini terasa sekali.
Oleh karena itu, adalah kewajiban kita bersama (terutama bagi tokoh-tokoh Islam) untuk melakukan pekerjaan pendidikan, penjelasan, atau “peringatan” terhadap golongan-golongan yang sehaluan (atau sealiran fikiran) dengan Aliansi Anti Komunis dan GPI supaya rencana aksi mereka itu jangan sampai dilaksanakan. Sebab, pada hakekatnya, dengan ditariknya buku-buku kiri dari peredaran bukanlah berarti “kemenangan” bagi mereka (dan golongan-golongan yang sefikiran dengan mereka). Bahkan sebaliknya. Tindakan-tindakan ini, atau tindakan dalam bentuk lainnya yang senafas, menunjukkan kwalitas rendah jati diri pelaku-pelakunya (dan organisatornya atau para sponsornya!!!).
Ancaman, teror, tekanan, apalagi aksi kekerasan yang serupa, bukanlah sesuatu yang bisa membikin citra Islam menjadi lebih baik. Bahkan sebaliknya. Padahal, perbuatan semacam itu hanyalah ulah segolongan kecil orang-orang yang menamakan diri mereka Islam.
Mengingat itu semuanya, alangkah menyedihkannya, kalau para tokoh Islam (atau tokoh dari golongan atau kalangan yang manapun!) membiarkan saja adanya gejala-gejala yang semacam itu. Lebih-lebih lagi, kalau mereka senang atau menyetujuinya. Sebab, kalau memang demikian halnya, maka akan lebih kelihatanlah betapa parahnya “kekerdilan” jiwa para tokoh-tokoh itu.
Kekerdilan atau kepicikan cara berfikir para “elite” demikian itu adalah kerugian bagi bangsa dan negara kita. Juga kerugian bagi citra Islam.

PENGHINAAN TERHADAP HARI KEBANGKITAN NASIONAL
Ancaman oleh Aliansi Anti Komunis dan Gerakan Pemuda Islam untuk menyerbu, atau membakar, atau melarang peredaran buku-buku “kiri” itu saja sudah patut menjadi bahan renungan serius kita bersama. Apalagi, ditambah pula bahwa aksi itu akan dilakukan pada Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, hari bersejarah KITA SEMUA. Padahal, sesuai dengan jiwa dan namanya, Hari Kebangkitan Nasional adalah, selama ini, merupakan hari mulia bagi semua komponen bangsa, semua suku, semua agama dan kepercayaan, semua ras, dan semua aliran politik, yang terdapat di Indonesia. Kalau kita tengok ke belakang, nyatalah bahwa sejarah kebangkitan nasional kita adalah suatu rentetan panjang perjuangan. (Ma’af, bahwa dalam tulisan ini diulangi lagi hal-hal yang sudah dikemukakan dalam tulisan terdahulu, supaya lebih jelas lagi). Rentetan ini yang dimulai oleh lahirnya Boedi Oetomo dalam tahun 1908, telah diteruskan, telah dipupuk dan dikembangkan oleh banyak orang dari berbagai golongan dan aliran. Kita ingat kepada Sarekat Dagang Islam (1911) yang dipimpin oleh Haji Samanhudi. Kepada Sarekat Islam (1912) yang dipimpin oleh Haji O.S.Tjokroaminoto. Kepada Sarekat Islam merah (Semarang) yang dipimpin oleh Semaun, Alimin dan Darsono. Kepada Sarekat Islam putih (Yogyakarta) yang dipimpin oleh H. Agus Salim, Abdul Muis dan Suryopranoto. Kepada Indische Partij (1912) yang dipimpin oleh Dr Douwes Dekker (Dr Setiabudhi), Suwardi Suryaningrat dan Dr Tjiptomangunkusumo. Kepada Muhammadiyah (lahir di Yogyakarta, tahun 1912) yang dipimpin oleh Haji Ahmad Dahlan.
Proses kebangkitan nasional ini kemudian diteruskan oleh lahirnya PKI (1920), yang juga dipimpin oleh Semaun, dan disambung oleh pembrontakan PKI melawan pemerintahan kolonial Belanda dalam tahun 1926 dan 1927. Lahirnya Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda dalam tahun 1922, yang tokoh-tokohnya adalah Moh.Hatta, Nazir Datuk Pamuncak, Abdulmadjid Djoyodiningrat, Ali Sastroamidjoyo juga merupakan mata-rantai kebangkitan nasional bangsa. Lahirnya PNI tahun 1927 di bawah pimpinan Bung Karno adalah peristiwa besar dalam proses kebangkitan nasional bangsa kita, yang diiringi oleh peristiwa besar lainnya, yaitu Sumpah Pemuda (1928).
Mengingat sejarah Kebangkitan Nasional yang demikian itu, maka terasa sekalilah betapa besar penghinaan aksi yang direncanakan oleh Aliansi Anti Komunis dan Gerakan Pemuda Islam dengan “menggerebeg” toko-toko buku yang mengedarkan penerbitan-penerbitan yang berhaluan kiri atau bercorak komunis dan Marxis, pada hari yang kita muliakan bersama itu. Dari segi inilah kita bisa melihat betapa parahnya akibat buruk yang ditimbulkan oleh ketetapan MPRS 25 tahun 1966, yang telah dipaksakan oleh rezim Orde Baru/GOLKAR.
Dalam kaitan ini, adalah amat penting bagi kita semua (termasuk mereka yang sehaluan dengan Aliansi Anti Komunis dan GPI) berusaha menelaah dengan jernih dan nalar sehat, mengapa para pendiri rezim Orde Baru (khususnya pimpinan TNI-AD, waktu itu) memaksakan dikeluarkannya TAP MPRS 25/1966 itu, dan apa pula akibat-akibatnya bagi bangsa kita. Tanpa merentang-panjangkan lagi persoalannya (dalam tulisan ini) maka jelaslah bahwa TAP MPRS itu telah digunakan untuk menghancurkan PKI beserta seluruh kekuatannya yang terhimpun dalam berbagai organisasi massa. Walaupun jutaan simpatisan, anggota, atau yang dituduh anggota PKI sudah dibunuhi dan ratusan ribu lainnya dipenjara dalam jangka panjang sekali, mereka (para pendiri Orde Baru/GOLKAR) masih menginginkan supaya dengan ketetapan MPRS 25/1966 itu semua orang tidak berani mencoba-coba lagi untuk “menghidupkan” kembali PKI.
Selama lebih dari 32 tahun (sampai sekarang!!!) TAP MPRS 25/1966 ini telah dijadikan alat terror yang luar biasa ganasnya. Sebagai akibatnya, bukan hanya keluarga atau simpatisan PKI saja yang merasa dipersekusi, tetapi juga orang-orang lain (yang non-PKI) dalam masyarakat. Ditambah dengan kampanye dan peraturan “bahaya laten PKI”, “bersih lingkungan”,“surat bebas G30S”, maka seluruh negeri telah diterror secara mental. Indoktrinasi“PKI jahat” itu yang dilancarkan oleh Orde Baru secara intensif sekali, - lewat berbagai cara dan dalam jangka lama - telah meracuni fikiran banyak orang di berbagai golongan, baik di kalangan pejabat, kalangan agama, maupun kalangan
pelajar dan pemuda.
Kalau kita telaah pengalaman bangsa kita selama Orde Baru, nyata sekalilah bahwa penyebaran racun “PKI jahat” ini adalah tindakan yang tidak berperi-kemanusiaan, yang telah membikin kesengsaraan bagi banyak sekali orang. Banyak sekali anggota keluarga para korban 65 dan keluarga eks-tapol yang mengalami berbagai penderitaan yang berkepanjangan. Padahal, banyak di antara mereka itu yang juga beragama Islam. Adalah suatu hal yang patut menjadi pemikiran bagi para tokoh-tokoh Islam mengapa keadaan yang menyedihkan ini dibiarkan saja. Apalagi, kalau diingat bahwa perlakuan yang begitu kejam itu dilakukan (atau didukung) oleh kalangan“elite” kita (termasuk, bahkan terutama, “elite” yang menamakan diri Islam).

BELAJAR DARI SEJARAH BUNG KARNO
Oleh karena aksi Aliansi Anti Komunis dan GPI itu direncanakan akan dilaksanakan dalam rangka Hari Kebangkitan Nasional dan juga menjelang akan dirayakannya HUT ke-100 Bung Karno, maka ada baiknya kita melihat persoalan ini dari sudut pengalaman sejarah Bung Karno. Sebab, agaknya, bangsa kita perlu terus-menerus ingat bahwa Bung Karno, sebagai tokoh nasionalis yang berorientasi politik kiri, telah memimpin perjuangan bangsa sejak muda (sampai menjelang akhir hayatnya) dengan gagasan besar mempersatukan seluruh bangsa atas dasar persatuan golongan nasionalis, agama dan komunis (Marxis).
Tulisannya dalam Suluh Indonesia Muda (1926) ketika ia masih berumur 25 tahun (!) - dan sebelum mendirikan PNI (1927) - sudah menggambarkan dengan jelas konsepnya ini. Konsep besarnya inilah yang kemudian telah membimbingnya dalam memimpin perjuangan bangsa, sampai ia menjadi kepala negara. Konsep besarnya inilah yang juga dituangkannya dalam memperkenalkan Marhaenisme (sekitar tahun 1930), yang merupakan ekspressi : Ketuhanan Yang Maha Esa, Socio-nasionalisme dan Socio-demokrasi.
Dalam berbagai kesempatan, Bung Karno telah mengungkapkan bahwa Marhaenisme adalah Marxisme yang ditrapkan atau disesuaikan dengan keadaan di Indonesia. Dinyatakannya juga berkali-kali bahwa ia adalah seorang sosialis, seorang kiri, seorang Muslim yang menggunakan materialisme-histori dalam memandang persoalan-persoalan sejarah dan masyarakat. Agaknya, dasar-dasar pemikirannya ini pulalah yang bisa menunjukkan mengapa Bung Karno sejak muda sudah menghubungkan soal perjuangan bangsa Indonesia dengan perjuangan bangsa-bangsa lain.
Dalam tulisannya “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme” dalam Suluh Indonesia Muda itu (1926) ia sudah menegaskan bahwa “nyawa pergerakan rakyat Indonesia mempunyai tiga sifat, yaitu NASIONALISTIS, ISLAMISTIS DAN MARXISTIS” (ungkapan dalam bahasa Belanda. Pen). Dinyatakannya di situ bahwa “Partai Boedi Oetomo, Nationaal Indische Partij, Partai Sarekat Islam, Perserikatan Minahasa, Partai Komunis Indonesia dan masih banyak partai-partai lain … itu masing-masing mempunyai roh Nasionalisme, roh Islamisme, atau roh Marxisme”. Juga dinyatakannya :” Bukannya kita mengharap, yang Nasionalis itu supaya berobah faham jadi Islamis atau
Marxis, bukannya maksud kita menyuruh Marxis dan Islamis itu berbalik menjadi Nasionalis, akan tetapi impian kita yalah kerukunan, persatuan antara tiga golongan itu”.
Bagi mereka yang belum pernah membaca tulisannya itu (terutama bagi berbagai tokoh partai atau berbagai organisasi, baik yang Islam maupun yang lainnya) adalah sangat berguna untuk bisa membacanya dengan cermat, dan, sedapat mungkin, juga menghayatinya. Tulisannya itu, merupakan karya pemikirannya yang cemerlang. Di dalamnya, ia dengan cukup jelas membahas masalah nasionalisme, masalah Islam, masalah Marxisme.

TAP MPRS 25/1966 JUGA UNTUK MENGHANCURKAN BUNG KARNO
Aspek yang jarang terfikir oleh banyak orang adalah bahwa TAP MPRS 25/1966 adalah juga salah satu cara untuk menghancurkan sejarah dan ketokohan Bung Karno. Hal-hal yang dikemukakan berikut mungkin bisa merupakan bahan bagi pemikiran kita bersama :
- Pimpinan TNI-AD mengetahui (waktu itu) bahwa PKI adalah pendukung yang besar (dan aktif) terhadap politik Bung Karno sejak tahun-tahun 50-an, baik yang berkaitan dengan masalah-masalah dalamnegeri maupun luarnegeri. Dan sesuai dengan perkembangan situasi nasional dan internasional waktu itu, dukungan PKI kepada Bung Karno juga makin lama makin membesar. Para pakar sejarah, atau pengamat politik yang cermat, tentunya ingat bahwa Bung Karno, sebagai nasionalis kiri dan revolusioner memang sejak muda sudah menjadi musuh kolonialisme Belanda dan kemudian (sejak tahun 1950) juga sudah “diincar” oleh imperialisme Barat, terutama AS dan Inggris.
- Berbagai data, bukti, analisa, yang dibikin oleh ahli-ahli Barat telah membongkar bahwa dalam rangka “perang dingin”, Bung Karno memang sudah sejak lama harus dilawan, dikalahkan, bahkan “dihancurkan” baik oleh musuh-musuhnya di dalamnegeri maupun luarnegeri. Antara lain, buku “Plot TNI AD-Barat di balik tragedi ‘65” , yang diterbitkan bersama-sama oleh LSM Tapol, MIK, dan Solidamor (Juli 2000), sudah menyajikan sebagian dari bahan-bahan tentang latar-belakang digulingkannya Bung Karno. Buku ini merupakan kumpulan penting tulisan ahli dan peneliti terkenal, umpamanya : Coen Holtzappel, W.F. Wertheim, David Johnson, Kathy Kadane, Ralp McGehee, Mark Curtis, Mike Head (mengenai peran kekuatan asing dalam penggulingan Bung Karno ini ada catatan tersendiri. Pen). - Bung Karno sudah terang-terangan menyatakan diri sebagai seorang Muslim yang menggunakan cara berfikir marxis, dan Marhaenisme dinyatakannya sebagai pentrapan Marxisme dalam kondisi kongkrit Indonesia. Di samping itu Bung Karno telah mencetuskan gagasan NASAKOM, dan kemudian juga memimpin untuk dilaksanakannya konsepsinya ini di berbagai bidang. Oleh karenanya, dalam rangka inilah TAP MPRS 25/1966 juga berfungsi untuk menghancurkan ketokohan Bung Karno dalam sejarah bangsa kita. Dengan melarang Marxisme, secara langsung atau tidak langsung ajaran-ajaran Bung Karno juga menjadi
“terlarang”, selama lebih dari 32 tahun. Karenanya, dalam jangka yang lama sekali semasa Orde Baru, banyak orang tidak berani bicara atau menulis tentang Marhaenisme atau tentang Bung Karno. . · * *
Mengingat hal-hal tersebut di atas, maka makin jelaslah kiranya, mengapa para pendiri Orde Baru/GOLKAR telah menggulingkan Bung Karno, dan mengapa pula para pendukung setia Orde Baru terus-menerus selama puluhan tahun berusaha merusak citranya sebagai pemimpin bangsa. Juga, makin jelas mengapa kekuatan-kekuatan asing (terutama AS dan Inggris) berkepentingan sekali untuk ikut aktif menggulingkannya, sebagai bagian dari pergolakan "perang dingin" waktu itu. Dan, untuk tujuan itu, maka PKI sebagai pendukungnya yang besar, haruslah dihancurkan terlebih dulu. Penghancuran PKI telah melapangkan jalan bagi penghancuran Bung Karno, baik secara fisik maupun secara politik.
Sebagai akibat dihancurkannya kekuatan PKI dengan cara-cara yang luar biasa ganasnya, Orde Baru/GOLKAR juga telah dengan mudah melumpuhkan seluruh kekuatan pendukung Bung Karno lainnya, terutama para pendukung Marhaenisme. Gagasan besar Bung Karno yang diidam-idamkannya sejak umur 25 tahun, yaitu NASAKOM, dihabisi oleh Orde Baru. Dengan dilumpuhkannya kekuatan pendukung Bung Karno dalam jangka yang begitu lama, maka bangsa kita telah mengalami kemunduran dan kerusakan yang besar di berbagai bidang. Persatuan dan kerukunan nasional menjadi tercabik-cabik, Pancasila telah dirusak, KKN merajalela, agama telah diperalat untuk tujuan-tujuan yang tidak luhur, moral di kalangan atasan sudah makin membusuk, hukum diperjual-belikan,
kepentingan "rakyat kecil" diabaikan. Sekarang, banyak di kalangan rakyat melihat sendiri, bahwa sebagian besar di antara para pendiri Orde Baru/GOLKAR ( yang memusuhi ajaran-ajaran Bung Karno dan menggulingkannya), ternyata bukanlah tokoh-tokoh yang terhormat atau patut dihormati oleh rakyat. Sebaliknya, sekarang banyak orang mulai melihat (lagi!) sosok Bung Karno sebagai pemimpin rakyat yang sebenarnya.
Perjalanan waktu di kemudian-hari pasti akan lebih menunjukkan lebih jelas lagi bahwa ia memang seorang tokoh yang patut menjadi kebanggaan kita bersama.


Paris, 6 Mei 2001
Satu Abad Bersama Nusantara Oleh Daniel Dhakidae

M@RHAEN menyiarkan bahan yang dikirimkan oleh pengunjung laman M@RHAEN daripada negara seberang Selat Melaka untuk bacaan dan renungan kita bersama. M@RHAEN tidak melakukan sebarang suntingan, sebaliknya mengekalkan penggunaan bahasa Indonesia seperti teks asal yang diterima.

Satu Abad Bersama Nusantara
Dengan itu sebagai titik tolak-idealisme, sense of destiny, dan apa yang dicapainya-penerbitan khusus ini mau memeriksa Soekarno pada hari ulang tahunnya yang ke-100 sebagai suatu gejala historis. Kalau Soekarno sendiri mungkin tidak dengan mudah menilai dirinya, semakin besar pula kesulitan itu untuk kita. Kesulitan itu semakin besar lagi ketika kita harus memeriksa kembali diri Soekarno-30 tahun setelah meninggalkan dunia ini, 45 tahun setelah dijatuhkan Soeharto, dan 100 tahun setelah dilahirkan ibunya. Semuanya menjadi suatu kompleks dari persoalan karena meninggalnya 30 tahun lalu bukan sekadar seorang yang memenuhi nasib Sein zum Tode akan tetapi karena kematiannya semakin menimbulkan soal lagi-betulkah dia mati wajar? Kejatuhannya lebih membingungkan ketika semuanya berpusat pada pembunuhan enam jenderal-betulkah PKI yang membunuh dengan konsekuensi menjatuhkan Soekarno pelindungnya adalah keharusan, atau mereka dibunuh oleh anak buahnya sendiri para perwira militer bawahannya dan dengan itu tidak perlu menjatuhkan Soekarno.
Hannah Arendt tidak mengalami kesulitan ketika harus mengucapkan eulogia kepada Karl Jaspers, filosof eksistensialis-teman, kolega, yang mendapatkan hadiah perdamaian Jerman. Tidak ada kata yang lebih pantas, demikian Arendt, daripada puja-pujian, laudatio, karena, sambil mengutip Cicero dikatakannya "in laudationibus...ad personarum dignitatem omnia referrentur", dalam puja-pujian semuanya mengacu kembali kepada kebesaran pribadi-pribadi itu, terutama karena mereka membuktikan dirinya dalam hidup.
Di sana justru letak seluruh kegemasan memeriksa Soekarno, karena jajaran antara dignitas personae dan pembuktian diri dalam hidup tidak selalu seiring, apalagi persoalan yang ditinggalkan Soekarno, seperti konsekuensi ekonomi-politik dan karena itu kemanusiaan yang berasal dari keputusan-keputusannya. Menilai Soekarno semata-mata dari kebesarannya-kalau bukan pendasar maka Soekarno adalah penganjur paling vokal nasionalisme Indonesia, proklamator kemerdekaan-selalu membingungkan dan juga memusingkan karena di samping kebesaran di sana langsung menyusul kekerdilan, di samping kecemerlangan langsung menyusul diletantisme, di samping keberanian revolusioner langsung saja menyusul kekecutan, dan ke-pengecut-an. (Baca: Valina Singka Subekti)
Di pihak lain mengecilkan Soekarno hanya karena persoalan yang ditinggalkannya-semua masalah pra dan pascaperistiwa tanggal 1 Oktober 1965, pembunuhan jenderal-jenderal oleh para perwira bawahannya--sungguh menyesatkan dari satu ujung ke ujung lainnya dan bagi generasi-generasi berikutnya menjadi penipuan terencana. Lantas pertanyaan-untuk siapa pun yang berminat memeriksa Soekarno secara sungguh-sungguh-harus diajukan kembali lagi ke dasar paling awal: siapa Soekarno? Apa yang dibuat Bung Karno? Apa yang ditinggalkan Presiden Republik Indonesia pertama, Pemimpin Besar Revolusi, dan Penyambung Lidah Rakyat?
Satu Abad Nusantara Bersama Soekarno
Soekarno adalah seorang cendekiawan yang meninggalkan ratusan karya tulis dan beberapa naskah drama yang mungkin hanya pernah dipentaskan di Ende, Flores. Kumpulan tulisannya sudah diterbitkan dengan judul Dibawah Bendera Revolusi, dua jilid. Namun, dari dua jilid ini hanya jilid pertama yang boleh dikatakan paling menarik dan paling penting karena mewakili diri Soekarno sebagai Soekarno. Dari buku setebal kira-kira 630 halaman tersebut tulisan pertama yang berasal dari tahun 1926, dengan judul "Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme" yang paling menarik dan mungkin paling penting sebagai titik-tolak dalam upaya memahami Soekarno dalam gelora masa mudanya, seorang pemuda berumur 26 tahun-kira-kira pada umur yang sama ketika Marx, 30 tahun, dan Engels, 28 tahun, menulis Manifesto Partai Komunis.
Marx dan Engels membuka manifestonya dengan kata-kata "a spectre is haunting Europe--the spectre of Communism", ada hantu yang menggerayangi Eropa--hantu komunisme. Soekarno membuka tulisannya dengan suatu pernyataan keras, semacam Manifesto Soekarno-isch:
Sebagai Aria Bima-Putera, jang lahirnja dalam zaman perdjoangan, maka Indonesia-Muda inilah melihat tjahaja hari pertama-tama dalam zaman jang rakjat-rakjat Asia, lagi berada dalam perasaan tak senang dengan nasibnja. Tak senang dengan nasib-ekonominja, tak senang dengan nasib-politiknja, tak senang dengan segala nasib jang lain-lainnja. Zaman "senang dengan apa adanja", sudahlah lalu. Zaman baru: zaman m u d a, sudahlah datang sebagai fadjar jang terang tjuatja.
Paralelisme antara manifesto Marxis dan manifesto Sukarno-isch bisa dilihat di sini. Soekarno membuka manifestonya yang sarat dengan simbolisme ketika di sana dikatakan tentang Suluh Indonesia Muda, majalah bulanan yang didirikannya sebagai organ organisasi Algemeene Studie Club, yang juga didirikannya: "Sebagai Aria Bima-Putera, jang lahirnja dalam zaman perdjoangan". Dalam imaji Soekarno Suluh harus menjadi secerdik-cendekia Gatotkaca, sesakti dan seulet tokoh wayang itu yang menjadi orang terakhir yang mengembuskan napasnya di tangan pamannya sendiri. Imaji Soekarno tentang Gatotkaca tidak jauh dari imaji orang Jawa umumnya tentang Gatotkaca, yakni berani tak mengenal takut, teguh, tangguh, cerdik-pandai, waspada, gesit, tangkas dan terampil, tabah dan mempunyai rasa tanggung jawab yang besar. Ia sangat sakti, sehingga digambarkan sebagai ksatria yang mempunyai 'otot kawat balung wesi'...sumsum gagala, kulit tembaga, drijit gunting, dengkul paron... (Ensiklopedi Wayang Purwa, Balai Pustaka, 1991)
"Hantu" Gatotkaca selalu kembali kalau diperlukan kerajaan Pandawa dalam keadaan krisis dan dalam kalangan keluarga Pandawa berlaku semacam standing order:"...bila sewaktu-waktu menghadapi bahaya, agar memanggil Gatotkaca". Gatotkaca di sini tidak lain dari semacam "hantu", spectre, das Gespenst dalam Manifesto Karl Marx, yang menurut Derrida hantu itu harus dipahami dalam arti hantologie-dan bukan ontologie sebagaimana Marx selalu ditafsirkan--sebagai keadilan yang tidak bisa diredusir lagi.
Dalam manifesto Soekarno, maka dasar berpijak itu berada pada kemerdekaan dari mana tidak ada reduksi lagi-yaitu kemerdekaan dalam arti lepas dan melepaskan diri dari kolonialisme asing, Barat. Kemerdekaan memerlukan beberapa syarat dan salah satu syarat terpenting adalah persatuan. Hantu kemerdekaan itulah yang selalu kembali seperti Gatotkaca untuk menuntut keadilan dalam suatu masa ketika Asia merasa tak senang dengan nasibnya, yaitu nasib kolonial yang tidak adil. Dalam paham Soekarno kolonialisme itu tidak lain dari soal kekurangan rezeki, dan "kekurangan rezeki itulah jang mendjadi sebab rakjat-rakjat Eropah mentjari rezeki dinegeri lain!".
Dalam paham Soekarno di Asia sudah mulai tumbuh keinsyafan akan tragedi ketika "rakjat-rakjat Eropah itu mempertuankan negeri-negeri Asia" (untuk para pembaca muda "mempertuankan negeri-negeri Asia = menguasai, menjajah Asia-Penulis). Keinsyafan akan tragedi itulah yang sekarang menjadi nyawa pergerakan rakyat Indonesia yang walaupun dalam maksudnya sama "ada mempunyai tiga sifat: nasionalistis, Islamistis dan Marxistis-lah adanja".
Apa yang dipahami Soekarno tentang marxisme? Sebelum masuk ke dalam apa yang dipahami Soekarno, untuk itu baca Franz Magnis-Suseno, mari kita lihat beberapa hal teknis tentang orang yang disanjungnya dan paham yang dipuja. Sungguh mencengangkan bahwa menulis nama Karl Marx pun, Soekarno menulisnya terbalik, dalam suatu urutan nama Barat, dengan tiga suku bersama iddle name. Soekarno menulis bukan Karl Heinrich Marx, akan tetapi Heinrich Karl Marx. Ketika memberikan acuan kepada Manifesto Komunis Soekarno mengatakan, di tiga halaman berbeda, bahwa Manifesto ditulis dan diumumkan tahun 1847--tahun sesungguhnya adalah bulan Februari 1848. Semua kekeliruan "kecil" di atas harus dimaafkan karena lebih bisa diterima sebagai kealpaan seorang sarjana yang baru saja tamat Sekolah Tinggi Teknik di Bandung dengan gelar insinyur--kalau sudah tamat karena Soekarno menyelesaikan studinya 25 Mei 1926. (Edisi asli Soeloeh Indonesia Moeda, tidak diperoleh).
Apa sesungguhnya yang dipahami Soekarno tentang ketiganya? Bisalah dikatakan di sini bahwa apa yang dicita-citakan Soekarno adalah suatu mission impossible baik dari segi teoretis maupun dari segi praktis. Nasionalisme Soekarno adalah jenis nasionalisme voluntaristik, dengan tekad sebagai modal dengan tujuan hampir satu-satunya yaitu persatuan tanpa mempedulikan realitas ekonomi-politik. Karena itu ketika Soekarno mengatakan bahwa:
...asal mau sahadja...tak kuranglah djalan kearah persatuan. Kemauan, pertjaja akan ketulusan hati satu sama lain, keinsjafan akan pepatah "rukun membikin sentausa" ...tjukup kuatnja untuk melangkahi segala perbedaan dan keseganan antara segala fihak-fihak dalam pergerakan kita ini lebih menjadi wishful thinking baik pada waktu itu maupun pada waktu ini. (Baca: Baskara Wardaya) Mengapa persatuan? karena itulah persyaratan bagi kemerdekaan. Dengan begitu semua yang lain atau tunduk kepada atau harus ditafsirkan kembali atas dasar persatuan. Persatuan pada gilirannya akan merumuskan jenis nasionalisme, Islam, dan marxisme. Hampir seluruh esoterisme Soekarno dan kekhilafan fundamental yang tersebar sana-sini ketika menafsirkan nasionalisme, Islam, dan marxisme berasal dari sana. (Baca: Vedi Hadiz)
Soekarno dan suratan takdir
Semakin Soekarno diperiksa, semakin kita tidak mengerti siapa Soekarno itu selain bahwa suratan takdir itu sudah dipenuhinya yaitu memimpin Indonesia dalam waktu yang lama-bukan sekadar ketika menjadi presiden, akan tetapi jauh-jauh sebelum itu, sekurang-kurangnya sejak mengeluarkan manifesto Soekarno-isch tahun 1926 sampai dijatuhkan militer tahun 1966 di Jakarta. Setelah jatuh pun Orde Baru tidak mampu menghapus Soekarno dari kenangan publik dan pujaan massa yang tidak pernah mengenalnya. (Baca: Agus Sudibyo). Manifesto itu menjadi dasar geloranya, dan juga menjadi dasar ketidak-tentuan-nya. Namun, sejak itu Soekarno dan Indonesia hampir tidak terpisahkan, baik bagi bangsanya, maupun bagi dunia: bagi Asia, Afrika, dan Amerika Latin, Belanda kolonial, bagi fasisme Jepang, maupun bagi imperialis, Amerika dan Inggris-baik sebelum maupun sesudah Indonesia merdeka.
Secara intelektual dan politik ketika Soekarno menganalisa soal dia menjadi Marxis. Ketika dia ingin menghanyutkan massa Soekarno menjadi Leninis dalam jalan pikiran. Namun, ketika harus memecahkan soal dalam masa krisis, dia menjadi lebih dekat kepada sesuatu yang sangat dibencinya yaitu menjadi fasis dalam berpikir dan bertindak. Karena itu dia dan militer seperti aur dan tebing, yang satu membutuhkan yang lain, meski kemudian dia dikhianati militer.
Dalam hubungan dengan gerak dan tindakan militer, Soekarno menempatkan persatuan jauh-jauh lebih penting, sesuatu yang sangat disukai militer, dari kemerdekaan, terutama dalam arti kebebasan-Soekarno menjadi anti-Soekarno-sesuatu yang mungkin lebih diperlukan warganya yang sudah lelah dan letih ditindas ratusan tahun, oleh tuan-tuan asing-putih-kuning, dan kelak tuan-tuan sawomatang dari bangsanya sendiri. Tidak ada orang lain yang lebih paham tentang penderitaan itu dari Soekarno.
Daniel Dhakidae Kepala Litbang Kompas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar